Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU!

TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU!

Semua berjalan harmonis. Di ruang keluarga, Marsha sedang duduk bersama kedua maminya, Dina dan Bertha, memeriksa kebaya berwarna biru muda dan selendang tenun khas Indonesia. “Cantik banget ya kebaya ini,” ucap Mami Bertha sambil merapikan payet di lengan. “Paduan tradisional dan elegan. Cocok buat Marsha,” timpal Mami Dina.
101.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 24 kali sebagai tuti indra malaon
Baca
+Pustaka
WANITA PENAKLUK SAMUDRA

WANITA PENAKLUK SAMUDRA

"Kita dikutuk!" Mala tidak gentar. Dia berdiri tegak di antara para wanita yang ketakutan dan makhluk-makhluk itu, darahnya yang masih menetes di batu menjadi jembatan spiritual. Dia menatap mata kuning Leviathan tertua, memproyeksikan kehendaknya. Keinginan untuk memburu, keinginan untuk menenggelamkan api industri. "Duduklah, anak-anakku!" Mala membentak. Energi biru dari tubuhnya menyebar, membentuk jaring halus di antara dia dan para makhluk itu.
10613 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 16 kali sebagai tuti indra malaon
Baca
+Pustaka
Sangkur Pora

Sangkur Pora

tanya Audi ke Mas Adry. "Mas pesen kepiting lada hitam sama jus alpukat, Dind." Lagi-lagi Mas Adry memanggil Audi demikian. Apakah nama panjangnya juga ada Dinda? "Kirain mas dah lupa makanan favoritku," ujarnya jemawa. Seakan hendak memamerkan bahwa Mas Adry berada di bawah kendalinya.
103.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 71 kali sebagai tuti indra malaon
Baca
+Pustaka
Istri Tuli Yang Kau Buang

Istri Tuli Yang Kau Buang

Kata – kata Arum menghujam dada Tita. “Arum, kamu tidak mengerti sayang, apa yang Ibu lakukan adalah untuk kebaikan kita semua.” Tita mengambil jeda sebentar. Matanya ia lemparkan pada bunga anggrek bulan yang sedang berbunga lebt. “Kamu tidak tahu, Ibu membuang semua impian Ibu, supaya bisa terus mendampingi Om kamu. Dia adalah penerus Maheswara dan harus mendapatkan wanita yang sejajar dengannya.”
1021.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 476 kali sebagai tuti indra malaon
Baca
+Pustaka
Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu

Dasar payah! Mataku membola melihat satu gambar paling cantik. Kalung dari bahan berkilau dengan liontin seperti biji mutiara. Indah sekali. Apalagi jika yang memakai Berlian. Duh. Otakku ini. Aku tandai alamat tokonya dan segera memacu kendaraan ke sana. "Mbak, bisa liat yang seperti ini?" Aku menunjukkan gambar di ponsel pada pelayan toko.
1010.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 302 kali sebagai tuti indra malaon
Baca
+Pustaka
Istri Tangguh Tuan Angkuh

Istri Tangguh Tuan Angkuh

Ingin melihat secara langsung benar Dinda anak dari Wijaya. Rasanya ini sangat lucu. "Panggil Papa, kau tidak sopan," celetuk Chandra. Wajah Dimas pun seketika memerah mendengar ucapan Chandra. Papa? Sulit sekali. "Itu benar! Jangan menjadi menantu kurang aja!" timpal Wijaya. "Saya dengar ada proyek triliunan rupiah yang di dapatkan menantu anda ini," ujar Chandra.
10115.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.9K kali sebagai tuti indra malaon
Baca
+Pustaka
Keris Darah Candramaya

Keris Darah Candramaya

ujarnya sambil menarik tangan gadis itu dan menggiringnya ke ranjang. "Apa dengan mustika itu kamu bisa melihat sosok asli orang yang menggunakan Ajian Malik Rupa. Bisa tidak?" Tanya Candramaya. Matanya berkilau, dia sangat berharap itu bisa. Jadi otomatis dia juga bisa melihatnya. "Tentu saja. Tapi kamu tidak. Hehe .." jawab Indrayana sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sorot mata Candramaya meredup, "Kenapa?"
2.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 69 kali sebagai tuti indra malaon
Baca
+Pustaka
Janda Tapi Perawan

Janda Tapi Perawan

Liza memainkan ujung rambutnya. “Aku juga menginginkan Dika..” jawab Liza, yang berhasil membuat Dita merasakan bulu kuduknya meremang. Wanita di depannya ini, bukan wanita baik baik, serakah dan tidak memiliki hati. “Aku tidak ingin ikut campur keinginanmu, aku juga sudah mengikhlaskan Rizal untukmu. Jika itu maumu.” Dita pergi begitu saja, tidak ingin membicarakan hal diluar pekerjaan, ambisi yang tadi pagi masih ada di hatinya entah menguap kemana sekarang ini. Dita merasa kecewa dan entah apa yang Tuhan rencanakan untuk hidupnya. Ucapan mertuanya yang menyanjung Liza di depan matanya, masih membayanginya hingga hari ini.
102.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 83 kali sebagai tuti indra malaon
Baca
+Pustaka
Mantan Terindah

Mantan Terindah

Mira mengikuti langkah laki laki itu, sesekali pandangannya jauh menatap ombak yang bergulung. "Mira lihat!" Mira mendengar Damar memanggilnya, dan wanita itu menoleh laku tersenyum. Wanita itu melihat Damar tengah memperlihatkan sebuah kalung mutiara yang sangat cantik, gegas wanita itu mendekati Damar. "Lihat kalung ini, sangat cantik!" puji Damar pada benda di tangannya. Mira mengamati sebentar, lalu tersenyum.
2.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 60 kali sebagai tuti indra malaon
Baca
+Pustaka
ISTRI UNTUK RAMA

ISTRI UNTUK RAMA

Rama menunggu wanita itu melanjutkan kalimatnya. Wanita itu tertawa meremehkan, "ternyata dari penampilanmu saja terlihat kau itu seperti apa." "Seperti apa?" "Ya seperti biasa-biasa saja, bukan orang penting yang seperti di katakan oleh Tanteku," jawab Nindita lugas. Nindita sekali lagi melihat penampilan Rama dengan kemeja berwarna abu yang lengannya digulung, celana hitam dan sepatu sneaker yang lama juga kusam.
106.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 199 kali sebagai tuti indra malaon
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
345678
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status