พลิกเมฆาคว่ำพิรุณ การเกิดใหม่ของฉินฟ่าน

พลิกเมฆาคว่ำพิรุณ การเกิดใหม่ของฉินฟ่าน

last updateZuletzt aktualisiert : 08.03.2026
Sprache: Thai
goodnovel18goodnovel
Nicht genügend Bewertungen
67Kapitel
259Aufrufe
Lesen
Zur Bibliothek hinzufügen

Teilen:  

Melden
Übersicht
Katalog
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN

Zusammenfassung

ทะลุมิติ/ย้อนยุค/ย้อนเวลา

กำลังภายใน

พระเอกเก่ง

ดื้อรั้น

อิสระ

ฉลาด

วีรบุรุษอมตะ

แก้แค้น

เกิดใหม่

ฉินฟ่านหนุ่มน้อยผู้มีชะตากรรมที่น่าสงสาร โชคร้ายตายทั้ง ๆ ที่ชะตายังไม่ถึงฆาต เหล่าเทพที่บังเอิญมาเจอเขาต่างเห็นใจจึงกำนัลของวิเศษพร้อมส่งเขาไปเกิดใหม่ยังโลกคู่ขนาน

Mehr anzeigen

Kapitel 1

บทนำ : สวรรค์ไม่มีตา

Langit senja berubah warna menjadi merah darah saat Raka Prasetya akhirnya sampai di mulut desa Angkara. Debu menempel di wajah dan bajunya setelah dua belas jam perjalanan dari kota, menembus hutan lebat, menumpang truk tua, lalu berjalan kaki menyusuri jalan tanah yang seakan tak berujung.

Desa itu terpencil, tak ada di peta digital mana pun. Ia hanya tahu dari secarik surat yang dikirim tanpa pengirim. Isinya singkat, ditulis dengan tinta merah pudar di atas kertas tua beraroma jamur:

"Datanglah sebelum malam merah tiba. Jika tidak, kau akan datang sebagai arwah."

Awalnya Raka menganggapnya lelucon. Tapi rasa penasaran sebagai jurnalis investigasi dan dorongan aneh yang tak bisa ia jelaskan membuatnya terus mencari keberadaan desa Angkara. Kini ia berdiri di depan gerbang kayu tua yang menggantung miring, separuh patah, dipenuhi simbol tak dikenal yang terukir dalam pola berulang seperti mantera.

“Permisi?” serunya.

Tak ada jawaban. Bahkan suara jangkrik pun tak terdengar.

Ia melangkah masuk. Jalan setapak membelah rumah-rumah kayu tua yang kusam dan reyot. Sebagian rumah tertutup rapat, jendelanya ditutupi papan dari dalam. Tak ada satu pun penghuni terlihat, seolah desa ini ditinggalkan... atau memang tidak pernah dihuni oleh manusia.

Tiba-tiba, suara gesekan halus terdengar dari salah satu rumah di sebelah kanan. Raka berhenti. Perlahan, sebuah jendela terbuka, menampakkan sepasang mata tua yang dalam dan kosong. Mata itu menatapnya tanpa berkedip. Lalu jendela kembali tertutup tanpa suara.

Raka merinding. Langkahnya kembali berjalan, kali ini lebih cepat.

Di tengah desa, ia tiba di sebuah lapangan kecil dengan pohon beringin besar berdiri kokoh di tengah. Akar-akar pohon itu menjulur keluar seperti tangan yang merangkak dari tanah. Di bawah pohon itu berdiri seorang wanita tua berpakaian hitam lusuh, rambutnya panjang menutupi sebagian wajahnya, dan tongkat kayu melengkung di genggamannya.

“Kau Prasetya?” tanyanya lirih.

Raka mengangguk ragu. “Iya. Raka Prasetya. Saya... mendapat surat.”

Wanita itu mengangguk pelan, namun wajahnya tetap tanpa ekspresi. “Surat itu bukan undangan,” katanya pelan. “Itu peringatan. Tapi kau datang juga.”

“Saya ingin tahu tentang desa ini. Kenapa tak ada informasi apa pun? Kenapa semua orang diam? Apakah ada sesuatu yang”

Wanita itu mengangkat tangannya, menyuruh Raka diam.

“Mereka mendengarmu,” bisiknya.

“Siapa?”

Wanita itu menatap lurus ke matanya, dan saat itulah Raka merasa ada sesuatu yang tak wajar dalam sorot mata itu. Seolah... matanya pernah melihat dunia yang berbeda. Dunia yang lebih gelap. Dunia yang seharusnya tidak pernah dijamah manusia.

“Aku penjaga gerbang,” ucap wanita itu akhirnya. “Dan kau, Raka... kau adalah kuncinya.”

Raka melangkah mundur, jantungnya berdetak cepat. “Apa maksud Ibu? Kunci apa?”

Sebelum wanita itu menjawab, dari arah hutan terdengar suara lolongan panjang. Namun itu bukan lolongan anjing. Suara itu dalam, serak, dan menggema seperti berasal dari tenggorokan makhluk yang tak memiliki bentuk.

Langit perlahan menghitam, bukan karena malam turun, tapi seperti awan kelam menggulung turun menelan langit. Angin bertiup dingin, membawa bau busuk yang menusuk hidung. Daun-daun berjatuhan, dan suara lonceng kecil terdengar berdenting di kejauhan padahal tak ada angin cukup kuat untuk menggoyangkan apa pun.

Wanita tua itu menatap ke langit. “Malam merah hampir tiba.”

Ia lalu menunjuk arah barat. Di sana, di balik reruntuhan bangunan tua, terlihat jalan kecil menurun ke arah sebuah bukit.

“Kau akan mulai mendengar suara-suara itu malam ini. Jangan menjawab mereka. Jangan melihat ke mata siapa pun setelah matahari tenggelam. Dan yang paling penting... jangan buka pintu rumahmu, meski yang mengetuk adalah suara ibumu sendiri.”

Raka menatap wanita itu dengan bingung. “Ibu bicara seperti ini... semacam tempat terkutuk.”

“Angkara bukan tempat. Angkara adalah pintu. Dan ketika dibuka, neraka tidak hanya menelan mereka yang berdosa. Tapi juga mereka yang penasaran.”

Seketika itu, terdengar ketukan. Pelan. Tiga kali.

Raka menoleh cepat ke belakang, namun tak ada siapa pun.

Ketika ia kembali menatap wanita tua itu... dia telah menghilang.

Pohon beringin bergoyang pelan. Di salah satu akar menggantung sebuah benda kecil berlumuran darah kering: potongan telinga manusia.

Angin malam berdesir, membawa bisikan samar.

"Selamat datang di Angkara, anak kunci..."

BERSAMBUNG

Erweitern
Nächstes Kapitel
Herunterladen

Aktuellstes Kapitel

Weitere Kapitel
Keine Kommentare
67 Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status