Mag-log inหญิงสาวเกิดใหม่ในนิยายพร้อมระบบหมอเทวดา เธอเป็นหญิงหม้ายที่ถูกครอบครัวสามีขับไล่หลังจากแต่งงานได้เพียงสามเดือน และที่น่าตกใจกว่านั้นคือลูกเลี้ยงวัยแปดขวบที่ร่างเดิมชอบทุบตีคือนางร้ายในนิยายเรื่องนี้!
view moreSinar matahari pagi menyelinap melalui celah tirai, menusuk mata Freya membuatnya terkejut dan bangun. Kepalanya berdenyut-denyut seolah ada gendang yang dipukul dari dalam, dan tenggorokannya terasa kering seperti gurun. Freya menutupi wajah dengan lengan-mencoba menghindari cahaya, tapi ketika menggeser badan, tangannya menyentuh sesuatu yang hangat dan juga lembut.
Freya membuka mata perlahan. Jantungnya langsung berdebar kencang. Di sampingnya, seorang pria berambut ikal yang acak masih tertidur lelap, badannya hanya terbungkus selimut sampai pinggang. Wajahnya sama sekali tidak dikenal baginya. Ya Tuhan... siapa dia? Freya menutupi mulut dengan tangan, takut bersuara. Kemudian dia melihat ke arah bawah-tubuhnya sendiri. Dan seperti yang sudah dia duga, dia pun sama keadaannya. Apa sebenarnya yang terjadi kemarin? Freya merenung sambil merasakan tubuhnya lemas di atas kasur yang tidak dikenal. Ingatan semalam hancur seperti kaca pecah-pesta di bar, teman-teman yang hilang dari pandangan, minuman yang terus datang, dan kemudian... dia membelalakkan mata. Seharusnya dia berada di apartemennya Rio, kekasihnya. Tapi kenapa dia malah bisa sampai di sini bersama pria tak dikenal? Dia mencoba mengingat, tapi kepalanya hanya semakin sakit. Lantai kamar terasa berputar saat dia mencoba duduk. Tangannya gemetar saat dia berusaha menggapai ponsel di samping kasur. Layar menampilkan jam setengah delapan, tiga pesan dari ibunya dan beberapa panggilan tak terjawab dari Rio. Dia menekan napas dalam-dalam, mencoba menenangkan denyutan jantung yang kencang. Bau alkohol masih terasa di mulutnya, dan dia merasa mual menyebar di perut. Freya bergerak perlahan-lahan, mencoba keluar dari kasur tanpa mengganggu pria itu. Tapi selimut yang menutupi tubuhnya terlepas sedikit dan Freya dapat melihat bekas luka dilengannya sendiri. Freya menjadi lebih panik. Sayangnya Freya tak punya waktu untuk berpikir lebih lanjut. Sebelum pria itu bangun dan Freya akan mendapat masalah baru, dia harus bergegas pergi karena sebentar lagi meeting di kantor akan dimulai. Tapi saat Freya memungut pakaiannya yang berserakan di atas lantai, pakaian itu begitu kotor dan bau alkohol. Dia melihat tas yang dia campakkan di sudut kamar, namun tak melihat baju ganti di dalamnya. Tanpa berpikir panjang, Freya membuka lemari dan mengacak-acak isinya berharap ada sesuatu yang bisa dia pakai. Harapannya terkabul begitu dia menemukan satu set baju kerja wanita diantara tumpukan baju-baju pria. Freya langsung memakai baju tersebut dan memasukkan baju kotornya ke dalam tas. "Selamat tinggal, Pria asing. Mungkin pertemuan kita hanya sampai di sini," gumam nya sebelum keluar dari apartemen tersebut. Sambil mengenakan sepatu, Freya mengamati nomor pintu yang tertera di samping pintu. Dia menepuk dahinya cukup keras. "Bego... Bego!" umpatnya. "Harusnya aku masuk kamar nomor seratus sepuluh, bukan seratus satu." Kamar milik Rio berada di lantai 2 sedangkan kamar yang dia masuki berada di lantai 1. Gawat! Kalau Rio melihatnya keluar dari kamar apartemen pria lain, penjelasan apa yang harus dia jabarkan? Sebelum itu terjadi, Freya berlari sekuat tenaga keluar dari gedung apartemen lalu mencari taksi di tepi jalan. Perjalanan ke kantor terasa begitu cepat. Begitu dia masuk, orang-orang di kantor menatapnya secara terang-terangan. Apa dia terlihat begitu kacau? Denyutan di kepala masih terasa dan dia belum sempat memeriksa wajahnya di cermin. Tapi dia yakin kalau saat ini pasti wajahnya memang kacau. Dan... benar saja. Di depan cermin kamar mandi, Freya dapat melihat riasan wajahnya yang kacau dan matanya membengkak. "Oh... God!" pekiknya tertahan. Pantas orang-orang melihatnya aneh. Freya langsung mengambil sabun cuci muka dari tas dan mencuci wajahnya dengan cepat. Dia tak ada waktu untuk mandi, hanya sikat gigi sebentar sebelum menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh agar bau alkohol tersamarkan. Kali ini tak ada riasan dempul seperti biasanya. Hanya ada bedak tipis dan juga lipstik berwarna merah muda yang lembut. Begitu Freya sampai di depan ruangan kerja, Erlin-rekan kerjanya, sudah menunggu di depan pintu dengan cemas. "Kamu kemana aja? Dari tadi Pak Budi udah nyariin kamu loh," kata Erlin cemas, mengangkat alis sebelahnya begitu menyadari penampilan Freya yang tak seperti biasanya. "Terus... mana rokmu? Tumben pakai celana panjang?" Freya memaksakan senyumnya. "Ada masalah kecil. Nanti deh aku ceritain. Sekarang, mana Pak Budi? Meetingnya udah dimulai belum?" "Udah." Erlin menarik lengan Freya lalu berbisik, "Kayaknya ada masalah besar deh. Sebaiknya kamu cepat ke sana sekarang." Wajah Freya menjadi kaku. Gegas dia mendatangi ruang meeting dengan sisa tenaga yang ada. "Kamu telat lima menit, Fre." Bintang, teman satu timnya, sudah menghadangnya di depan pintu. "Cepat masuk!" Ketegangan langsung terasa saat Freya memasuki ruang meeting. Pak Budi, sang direktur utama, nampak mengerutkan kening dengan serius. "Pak Budi kenapa?" tanya Freya ke Bintang. "Kamu gak tahu?" Bintang berbisik pelan di samping Freya. "Proyek yang kita tangani terancam gagal karena salah satu investor terbesar kita mundur dan mencabut dananya." "Kok bisa?" "Kabarnya Bu Dira menggelapkan dana proyek. Makanya selama tiga bulan, proyek ini gak ada kemajuan," bisik Bintang lagi. Astaga... kepala Freya semakin pusing karenanya. Kalau proyek ini gagal, impian Freya untuk naik jabatan akan pupus dan tinggal kenangan. "Terus, gimana?" tanyanya. "Bu Dira dipecat dan kita bakal ada manajer baru." "Manajer baru? Siapa itu?" Tepat setelah Freya bertanya demikian, suara pria bernada berat dari arah pintu membuatnya menoleh. "Selamat pagi, Pak Budi. Saya Aryana Bintara. Manajer baru yang akan menggantikan Bu Dira." Jantung Freya berhenti sejenak lalu berdebar kencang seolah ingin melompat keluar dari dada. Napasnya tercekik di tenggorokan. Dia menggosok mata lalu membuka mata lagi untuk memastikan jika dia salah orang. Tapi nyatanya, pria di depannya benar-benar sama dengan orang yang tidur bersamanya tadi pagi. Ya Tuhan... Kekonyolan macam apa ini?ครอบครัว ENDเวลาผันผ่านไปหนึ่งเดือนเต็ม โรงหมอที่จ้าวหว่านชิงตั้งใจสร้างก็เปิดต้อนรับผู้คนตามที่นางตั้งปณิธานไว้ เดิมทีมีเพียงแผ่นป้ายไม้เรียบง่ายแขวนหน้าประตู แต่บัดนี้กลับมีผู้คนหลั่งไหลเข้ามาไม่ขาดสาย ด้วยชื่อเสียงความสามารถการรักษาของนางที่แพร่สะพัดไปทั่วเมืองหลวง ในแต่ละวันคนเจ็บไข้เดินทางมาขอรับการรักษาจนแน่นขนัด สุดท้ายนางจำต้องออกประกาศอย่างเข้มงวดว่าจะรับผู้ป่วยเพียงยี่สิบรายต่อวัน เพื่อมิให้ตนเองหมดเรี่ยวแรงเสียก่อนเวลาอันควรภายในห้องตรวจเงียบสงบกลิ่นสมุนไพรอวลอยู่ทั่วอากาศ จ้าวหว่านชิงนั่งอยู่หลังโต๊ะไม้กำลังบันทึกตำรับยารอคนไข้รายสุดท้ายของวันอย่างใจเย็นจังหวะนั้นเองเสียงชายหนุ่มเอ่ยขึ้นนอกประตู“ท่านแม่ ค่อย ๆ เดินนะขอรับ...”เสียงนั้นดังแว่วเข้ามาจ้าวหว่านชิงเงยหน้าขึ้นจากพู่กันด้วยท่าทีเรียบขรึม แต่ถ้อยคำต้อนรับคนไข้ยังไม่ทันหลุดพ้นจากริมฝีปากเสียงก็ขาดหายลงกลางคัน เมื่อสายตาสบเข้ากับบุรุษและหญิงชราที่นางคุ้นเคยในอดีตดวงตาคู่สวยพลันแข็งกร้าวในบัดดล“ทำไมถึงเป็นเจ้า!”ฉู่จิ่นหานก้าวเข้ามาพร้อมประคองมารดาใบหน้าแสดงความตกตะลึงยิ่งนัก ไม่อาจเชื่อได้ว่าหมอเทวดาผู้เลื่องลือ
จะไม่มีวันปล่อยนางให้หลุดมือไปอีกแล้ว...บนรถม้าตระกูลซูที่กำลังเคลื่อนตัวบนถนน จ้าวหว่านชิงกำลังลูบศีรษะของบุตรสาวที่นอนไม่ได้สติอยู่ข้าง ๆ แววตาและรอยยิ้มของนางอ่อนโยนเสียจนทำให้ชายหนุ่มที่นั่งอยู่ตรงข้ามไม่อาจละสายตาจากนางได้เลย“เด็กคนนี้ไม่ใช่บุตรสาวแท้ ๆ ของเจ้าหรือ”“ซูเหยาเป็นลูกติดของฉู่จิ่นหานกับภรรยาเก่า แต่ถึงจะไม่ได้มีสายเลือดเดียวกันข้าก็รักนางเหมือนดั่งบุตรสาวแท้ ๆ ของตัวเอง ยิ่งเห็นว่าเด็กคนนี้ถูกทำร้ายข้าก็ไม่อาจทนดูอยู่เฉย ๆ ได้”“เพราะแบบนั้นเจ้าเลยเดินทางมาที่เหมือนหลวงสินะ...”“ใช่ ที่ข้ายอมเดินทางมาเมืองหลวงเพราะตั้งใจจะมาขอหนังสือหย่าและรับตัวซูเหยามาอยู่ด้วยกัน”“เจ้า....เสียใจหรือไม่ที่หย่ากับสามี...”“ข้าไม่เสียใจเพราะข้าไม่ได้รักเขามานานแล้ว....”กู้ฮ่าวเทียนหัวใจสั่นสะท้านรุนแรง ความหนักอึ้งที่เคยกดทับเสมือนภูผาหล่นหายไปในพริบตา สายตาคมที่มักเคร่งขรึมกลับทอประกายอุ่นวาบราวกับเปลวไฟที่ลุกโชนกลางคืนหนาวใช่แล้ว นางไม่เสียใจเพราะหมดรักบุรุษโง่นั่นไปนานแล้ว...ในเมื่อเป็นเช่นนี้ก็เท่ากับว่าข้ายังมีความหวังไม่ใช่หรือ?“จริงสิ ข้าขอบคุณนะเจ้าคะ หากไม่ได้ยื่นมือมา
ข้าต้องการหนังสือตัดสัมพันธ์ [2/2]“ตะ…ใต้เท้ากู้! เหตุใดท่านจึงมาอยู่ที่นี่…”ฉู่จิ่นหานถึงกับชะงักงัน ร่างสูงผู้ยืนตระหง่านตรงหน้าไม่เพียงทำให้บรรยากาศกดดันถึงขีดสุด หากยังเป็นผู้มีอำนาจแม้ตนจะเป็นขุนนางแต่เมื่อเทียบกับผู้บัญชาการองครักษ์เกราะทองแล้วก็ยังห่างชั้นนัก ยิ่งไปกว่านั้นชื่อเสียงความเหี้ยมโหดของกู้ฮ่าวเทียนมีหรือจะไม่มีใครในเมืองหลวงไม่รู้จัก!กู้ฮ่าวเทียนยืนนิ่ง ปลายคมเฉียบของกระบี่ยังคงจ่ออยู่ตรงลำคอของฉู่จิ่นหาน นัยน์ตาคมฉายแววดุดันดั่งคมดาบแฝงแรงกดดันมหาศาลจนผู้คนรอบกายต่างไม่กล้าแม้แต่จะหายใจแรง“ฉู่จิ่นหาน เจ้ากล้าวางแผนสังหารคนเพียงเพราะต้องการปกปิดความผิดของมารดาต่อหน้าต่อตาข้า…เจ้าช่างไม่กลัวตายเสียจริง” เสียงทุ้มทรงอำนาจเอ่ยขึ้นช้า ๆ แต่ทุกถ้อยคำหนักหน่วงประหนึ่งสายฟ้าฟาดฉู่จิ่นหานหน้าถอดสีเข่าทั้งสองแทบทรุดลงกับพื้น เขาโขกศีรษะลงกับพื้นหลายครั้งเพื่อขอความเมตตาด้วยรู้ดีว่าหากผู้บัญชาการกู้ลงมือจริง ๆ แม้ตำแหน่งขุนนางของเขาก็ไม่อาจช่วยอะไรได้เลย“ข้า… ข้าไม่กล้าแล้ว!” เขารีบโขกศีรษะลงบนพื้นอย่างแรงพลางเอ่ยเสียงสั่นพร่าอย่างอับจนหนทางกู้ฮ่าวเทียนก้าวเข้าหาอีกก้า
ข้าต้องการหนังสือตัดสัมพันธ์ [1/2]กู้ฮ่าวเทียนยืนตระหง่านอยู่หน้าประตูไม้เก่า ร่างสูงเปียกชุ่มจากสายน้ำแต่แววตาคมกลับเย็นยะเยือกประหนึ่งคมดาบ เสียงตะโกนด่าทอของหญิงชราแว่วก้องท่ามกลางสายตาของเหล่าบ่าวรับใช้ที่จับจ้องมาอย่างตื่นตระหนก หากไม่ใช่เพราะจ้าวหว่านชิงยังอยู่ในห้องด้านหลังเขาคงยื่นมือไปบีบคอหญิงปากกล้าผู้นี้จนสิ้นใจคามือไปแล้ว“เจ้าเป็นใครกัน? เหตุใดจึงกล้ามาแทรกแซงเรื่องในจวนของบุตรชายข้า!” น้ำเสียงแหลมตวาดก้อง หญิงชราเชิดหน้าด้วยความหยิ่งผยองราวกับตนถือสิทธิ์อันชอบธรรมเหนือผู้ใดกู้ฮ่าวเทียนกำหมัดแน่นจนเส้นเลือดปูดพาดหลังมือ แววตาเปล่งประกายอาฆาตเย็นเยียบริมฝีปากเอื้อนเอ่ยช้า ๆ แต่หนักแน่น“เด็กคนนั้นตกน้ำข้าเพียงช่วยชีวิตนาง เจ้ามิเพียงไม่ขอบคุณแต่ยังบังอาจกล่าววาจาดูหมิ่นข้า…หรือว่าเจ้าเบื่อการมีชีวิตแล้ว?”ถ้อยคำเย็นดุจน้ำแข็งทำให้บรรยากาศรอบกายขึงตึง หญิงชราผู้นั้นถึงกับสะดุ้งเฮือกร่างสั่นสะท้านเผลอก้าวถอยหลังแต่ยังดึงหน้ากลบเกลื่อนความหวาดหวั่นไว้เชิดหน้าสวนกลับเสียงสั่นเครือ“คะ…คนต่ำต้อยเช่นเจ้ากล้าข่มขู่ข้าอย่างนั้นหรือ! เจ้ารู้หรือไม่ว่าบุตรชายข้าเป็นใคร!”คำพูดโอห
เด็กชายแปลกหน้าที่หลงทาง [1/2]จ้าวหว่านชิงจูงมือซูเหยาเดินเข้ามาในโรงเตี๊ยมที่คึกคัก ผู้คนมากมายต่างนั่งรับประทานอาหารดื่มสุราส่งเสียงหัวเราะครึกครื้น กลิ่นอาหารหอมกรุ่นโชยแตะจมูกจนหญิงสาวแอบกลืนน้ำลายแต่สายตากลับมุ่งไปยังเจ้าของโรงเตี๊ยมที่กำลังยืนอยู่หลังโต๊ะรับแขก“เถ้าแก่ข้าต้องการหาห้องพักหนึ
เจรจาการค้าโสมป่าท้องตลาดในยามสายคึกคักด้วยเสียงผู้คนตะโกนเรียกลูกค้า กลิ่นหอมของอาหารทอดจากแผงข้างทางลอยอบอวลปะปนกับกลิ่นสมุนไพรและผลไม้สดใหม่ จ้าวหว่านชิงจูงมือเด็กหญิงตัวเล็กฝ่าผู้คนไปด้วยความคาดหวังว่าซูเหยาจะตื่นเต้นกับการมาตลาดในเมือง แต่ทว่าความจริงกลับตรงกันข้ามกับความคิดของนางซูเหยากลับเด
ข้าต้องการหย่า [2/2]จ้าวหว่านชิงจูงมือซูเหยาวัยแปดขวบเดินไปตามทางท่ามกลางเสียงซุบซิบของชาวบ้านดังขึ้นไม่ขาดสาย พอทั้งสองก้าวเข้าสู่ลานบ้านสกุลฉู่ก็กลายเป็นจุดสนใจทันที“นั่นหว่านชิงที่ตายแล้วฟื้นไม่ใช่หรือ…นี่นางจะมาอาละวาดที่บ้านแม่สามีอีกแล้วหรือ?”“เดี๋ยวสินี่ข้าตาฝาดไปหรือ...เหตุนางถึงเดินจับม
ข้าต้องการหย่า [1/2]เวลาล่วงเลยผ่านไปความลังเลในใจของจ้าวหว่านชิงยังคงเหมือนก้อนหินหนักที่ถ่วงเอาไว้ในอก นางไม่อาจตัดสินใจได้เสียทีว่าจะรับเลี้ยงนางร้ายวัยแปดขวบอย่างซูเหยาดีหรือไม่ แต่กระนั้นแม้ปากใจจะยังไขว้เขวทว่ามือของนางก็ยังคงทำหน้าที่ดูแลเด็กน้อยทุกอย่างไม่ขาดตกบกพร่องจ้าวหว่านชิงบิดผ้าขาว












Rebyu