My Arrogant Lawyer
Pras menarik sikunya, hingga tatapan mereka beradu.
“Aku sudah maafin, kan, kenapa masih nangis juga?”
Disaat seperti ini, kenapa Pras masih saja bersikap menyebalkan. Pria itu benar-benar tidak peka sama sekali, batin Sinar.
“Aku kehabisan tisu!” kesal Sinar dengan isakan yang semakin jadi. Menyentak tangan Pras kemudian berbalik memunggunginya. Dadanya masih saja naik turun sesegukan. Kemudian mengusap bulir bening yang masih jatuh di kedua pipi itu, dengan punggung tangan.