Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU!

TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU!

Angin sepoi-sepoi berhembus lembut dari arah laut saat Arnold, Marsha, Zera, Farez, Joseph, dan Mary tiba di pantai barat Gili Trawangan. Pasir putih yang hangat masih terasa di telapak kaki mereka, sementara langit mulai berubah warna, dari biru cerah ke jingga keemasan. Cahaya matahari mulai condong ke barat, membentuk siluet pepohonan kelapa yang berderet sepanjang pantai.
101.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 24 kali sebagai angin sepoi sepoi
Baca
+Pustaka
JERAT MANIS BERONDONG POSESIF

JERAT MANIS BERONDONG POSESIF

Gaun itu murni, anggun, dan berwibawa. "Kenapa warna putih, Ga? Bukankah biasanya orang ingin terlihat berani dengan warna merah?" tanya Siska. Arga berjalan ke belakang Siska, melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu dan menatap pantulan mereka di cermin besar. "Putih melambangkan kelahiran kembali, Siska. Besok, Siska yang lama, istri Hendri yang tertindas, akan mati. Dan Siska yang baru, belahan jiwaku yang kuat, akan lahir. Aku ingin dunia melihat kemurnian hatimu."
1.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 38 kali sebagai angin sepoi sepoi
Baca
+Pustaka
Pesan Cinta Bonanza

Pesan Cinta Bonanza

Terpaan angin sejuk mengiringi lambaian kain panjang yang menutupi kepala hingga badannya. Perempuan itu terlihat anggun dengan balutan hijab sesuai syari'at. Pesona wajah mungil dengan hidung lancip dan bibir merah merona serta dua pasang bola mata yang bersinar indah di bawah semburat sinar jingga sore hari itu, membuat siapapun mungkin berpikir dialah bidadari yang turun ke bumi. "Haduh Sekar, huh huh... ai anjen ih!" ucapnya dengan nafas yang terputus-putus (Anjen dalam bahasa Sunda artinya adalah kamu).
102.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 49 kali sebagai angin sepoi sepoi
Baca
+Pustaka
Pasangan Romantis

Pasangan Romantis

Tiupan angin sepoi-sepoi di wajahnya terasa begitu sejuk, mengimbangi teriknya matahari. "Kau terlihat sangat senang," kekeh Austin ikut masuk ke perahu. Tampak jelas di wajah Ainsley kalau gadis itu sangat menikmati naik perahu. Ia tentu saja ikut senang. Ainsley sendiri hanya cuek dan menutup wajahnya menikmati angin yang menerpa kulit wajahnya. Austin duduk, meraih dayung, dan mendayung perahu menjauh dari dermaga, meninggalkan yang lainnya.
3.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 118 kali sebagai angin sepoi sepoi
Baca
+Pustaka
Sang Penjaga Pajajaran

Sang Penjaga Pajajaran

Angin berhembus membawa suara lembut dari kejauhan, seperti bisikan doa yang dilantunkan oleh kota itu sendiri: “Lamun rasa hirup di antara manusa, bumi moal sepi deui.” (Jika rasa hidup di antara manusia, bumi takkan sepi lagi.) Pagi berikutnya, berita tersebar di seluruh media sosial. #BandungBernafas menjadi tagar yang viral. Orang-orang dari berbagai kota datang, bukan untuk berwisata, tapi untuk merasakan sesuatu.
101.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 46 kali sebagai angin sepoi sepoi
Baca
+Pustaka
Mengharap Cinta Sepupuku

Mengharap Cinta Sepupuku

Ucapnya Dengan gemas Deg Nia di buat semakin malu dengan ucapan Revaldo barusan. Meskipun setelah Valdo mengucapkan kata-kata pedas itu akhirnya Segerombol pengunjung tadi tak lagi berani menatap ke arah mereka. Bahkan ada beberapa dari mereka memilih pergi karena malu. "Sudah jangan menutup wajahmu lagi, lebih baik kau kita selesai kan urusan kita sekarang! "
104.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 121 kali sebagai angin sepoi sepoi
Baca
+Pustaka
Kesempatan Kedua untuk Cinta

Kesempatan Kedua untuk Cinta

Mereka segera beranjak, menuju spot foto paling indah—membelakangi terbitnya matahari. Sepia memijakkan kakinya di atas bulir-bulir pasir, berjalan semakin dekat dengan ombak yang siap menerpanya. Angin bertiup cukup kencang, membuat rambutnya ikut terbang tersapu. Perlahan, buih-buih ombak semakin mendekat dan berhasil membasahi kakinya. Disaat yang bersamaan Sepia membentangkan tangannya, merasakan dingin laut menyentuh kulitnya dan hangatnya cahaya matahari pagi menerpa wajahnya. Ia menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman yang lebar.
104.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 165 kali sebagai angin sepoi sepoi
Baca
+Pustaka
Demon Emperor

Demon Emperor

Angin sepoi-sepoi bertiup mengibarkan pakaian Chu De Han palsu dan si Tukang Perahu. Setelah setengah jam menelusuri Sungai, di kejauhan mulai nampak Kota Aroma Osmanthus dengan nuansa kekuningan yang khas. Keharuman bunga Osmanthus yang bercampur dengan bau air sungai samar-samar mulai tercium terbawa oleh semilir sngin, beberapa burung camar dan merpati beterbangan di atas sungai dan di atas Kota Aroma Osmanthus.
1012.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 477 kali sebagai angin sepoi sepoi
Baca
+Pustaka
Mahar Kedua

Mahar Kedua

Angina sepoi serasa menambah kenikmatan saat mengamati detik-detik pergantian sore ke malam hari. “Apakah ini menjadi senja terakhir kita?” Naina membuka suara. Lirih sekali. “Kita akan melewati senja di hari-hari berikutnya, Ina.” “Tapi senja di hari berikutnya kita tak lagi berdua,” ucapnya dengan suara parau.
3.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 70 kali sebagai angin sepoi sepoi
Baca
+Pustaka
RESTU

RESTU

《 ℒí◊ᥒ ℚᥙᥱᥱᥒ ི ྀྀ》 @Yo_yos WOIIIII PIPIPIPIPIPIP BANGOONNN KALIANNNN BANGOONNNNNNNNN KEBENARAN MACEM APEKAH NIIII SAIA BOSS BANGUN LEBIH AWAL DARI TUYUL TUYULNYAAAAAAAAA BANGOOOOOOOONNNNNN @go_dzilla Lu ngetoa pagi pagi ngapain?, nge toa tuh di masjid sana!!
2.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 86 kali sebagai angin sepoi sepoi
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status