KEMBALINYA SANG RATU
Langit malam di Hutan Lambusango pecah oleh guruh yang bukan berasal dari awan, melainkan dari dentuman roket militer yang membelah angkasa. Di bawah kanopi pohon ulin yang merintih, Sinta menggigit sehelai kain tenun bermotif kamaru, tubuhnya melengkung seperti busur yang ditarik hingga patah. Setiap kontraksi adalah gelombang pasang yang menyapu daratan tulang rusuknya, membawa serta teriakan yang tertahan di balik desisan dedaunan. Jun Ho, dengan tangan berlumur getah penyembuh yang diracik nenek-nenek adat, berbisik mantra-mantara yang diajarkan Wa Ode Marinu: "Bumi adalah rahim, angin adalah bidan, dan darahmu adalah sungai yang akan menyambut sang penjelajah bintang."