Air Mata di Antara Bunga
Namun aku dengan cepat menarik tanganku, menolak sentuhannya.
“Rangga, antara kita nggak pantas lagi bicara soal cinta. Kalau benar-benar ingin tahu, kenapa kamu nggak tanya apa aku membencimu?”
Aku mengeluarkan kontrak yang dulu kubawa pergi, lalu melemparkannya ke wajahnya.
“Pak Rangga, cintamu terlalu mahal! Terlalu mahal sampai harus ditukar dengan nyawa orang lain, dengan runtuhnya sebuah perusahaan, dengan hancurnya jerih payah begitu banyak orang!”