Mendengar cerita cinta Pak Lurah selalu bikin aku tersenyum sendiri. Konon, pertemuannya dengan Bu Lurah terjadi di acara kerja bakti desa tahun 1985. Saat itu, Bu Lurah yang masih gadis desa dengan sanggul sederhana langsung menarik perhatian Pak Lurah yang kebetulan sedang liburan dari kota. Mereka berdua jatuh cinta saat bersama-sama memimpin pembangunan jembatan bambu. Uniknya, Bu Lurah sempat menolak lamaran Pak Lurah karena tidak mau meninggalkan orangtuanya yang tinggal di desa. Akhirnya Pak Lurah memutuskan untuk menetap di desa demi cintanya, dan sekarang mereka jadi pasangan teladan yang harmonis.
Yang bikin kisah mereka special adalah bagaimana mereka membangun rumah tangga dengan filosofi 'tembang macapat'. Ada fase 'maskumambang' saat masih penuh gejolak muda, 'mijil' ketika anak-anak lahir, sampai 'pocung' di usia senja yang penuh kebahagiaan sederhana. Aku suka bagaimana cerita mereka mengajarkan bahwa cinta sejati itu tentang komitmen, bukan sekedar perasaan sesaat.