Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
TERJEBAK MALAM PANAS DENGAN SANG PEWARIS

TERJEBAK MALAM PANAS DENGAN SANG PEWARIS

Naima lalu membawa kopi yang sudah dia buat ke depan, Sri dengan girang mengekor ikut ke depan. "Diminum, Mas," tawar Naima meletakkan kopi yang masih mengepulkan asap itu di hadapan Dewa. Dewa mendongak lalu tersenyum, "terimakasih, Nai," "Monggo diminum, Mas," sambung Sri ramah. "Terimakasih, Bu, maaf merepotkan," "Eh, cuma air saja, ndak repot." jawab Sri sambil mesam-mesem terpesona dengan ketampanan Dewa.
105.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 155 kali sebagai filosofi kopi dewi lestari
Baca
+Pustaka
Cari Jodoh di Grup Cenat-Cenut Cinta

Cari Jodoh di Grup Cenat-Cenut Cinta

Kedai kopi ini langganan aku dan Dewi nongkrong jika pulang kerja, dan hampir semua karyawan di sini hafal benar apa yang biasa kami pesan. Setelah memilih tempat duduk yang nyaman, seorang waiters yang mengenakan seragam kedai berwarna hitam kuning membawakan minuman. Tentu saja, es kopi ditemanu sepiring pisang goreng. Jujur saja aku masih trauma dengan kencan pertama. Lelaki yang kemarin pun tampak sempurna, bahkan idaman banget. Namun, ya sudahlah. Jangan dibahas. Anak Mama, go away. Manja! Lalu bagaimana dengan yang sekarang?
2.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 79 kali sebagai filosofi kopi dewi lestari
Baca
+Pustaka
Ular Di Farji Istriku

Ular Di Farji Istriku

Istriku meletakkan cangkir kopi yang masih mengepulkan asap tipis di atasnya, gegas aku menyesap cairan hitam dengan rasa khas yang menenangkan itu. "Makasih, Dek. Kopinya enak," ucapku, dia mengangguk samar, pandangannya celingukan ke depan, apa yang di lihat? sejak tadi aku merasa dia melamun, pelan kusentuh jemarinya, dia tersentak kaget.
1023.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 805 kali sebagai filosofi kopi dewi lestari
Baca
+Pustaka
PLAYER

PLAYER

Pasalnya Filosofi Coffee—tempat yang ditunjuk Arla—memang berada paling depan, berbatasan langsung dengan area parkir dan jalan besar di depan gedung itu. “Tapi kamu belum boleh minum kopi, caffeine nggak bagus buat pemulihan tulangmu. Tadi ada yang jual jamu. Mau ke sana aja?” “Emang kamu mau beli jamu apa? Jamu kuat?” ledek Arla sambil melangkah lebih dulu memasuki Filosofi Coffee.
1039.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.4K kali sebagai filosofi kopi dewi lestari
Baca
+Pustaka
Di mana Rindu ini Kutitipkan

Di mana Rindu ini Kutitipkan

Sambil aku menunjukkan ke rak tepat di belakang Sally duduk. “Keren juga konsep tempat ini. Siapakah orang gila yang punya tempat ini?” “Orang gila bagaimana maksudmu?” “Ya bagaimana tidak gila, café dipenuhi dengan buku-buku seperti ini. Ah, kauperlu membaca Filosofi Kopi-nya Dee.” “Apa itu?” “Carilah. Kaupasti menemukan seorang pecinta kopi yang benar-benar gila dalam cerita itu. Seperti pemilik kedai ini, tapi ini masih belum seberapa dibanding dengan tokoh Dee.”
103.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 111 kali sebagai filosofi kopi dewi lestari
Baca
+Pustaka
Pesona Ibu Tiri Temanku

Pesona Ibu Tiri Temanku

"Apakah itu benar-benar mungkin?" Pukul delapan malam. Kafe Filosofi Kopi terletak di gang sempit kawasan Braga—tempat yang jarang dikunjungi mahasiswa karena harganya cukup mahal dan lokasinya tersembunyi. Kafe bergaya industrial dengan lampu temaram, musik jazz lembut, dan aroma kopi artisan yang pekat. Ting! Bel pintu berbunyi saat Gilbert masuk. Hanya ada tiga meja yang terisi—pasangan muda yang sedang berpacaran, seorang pria paruh baya membaca buku, dan di pojok paling belakang...
103.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 88 kali sebagai filosofi kopi dewi lestari
Baca
+Pustaka
Perempuan Kopi

Perempuan Kopi

Adrian mendengus seraya menuangkan air mendidih ke dalam cangkir kopi. “No sugar…” ujar Airin cepat. “Semudah itu membuat kopi untuk Kakak.” Airin tersenyum. Lalu, berjalan menuju halaman belakang. Ia duduk di atas kursi taman. “Apakah cemburu itu menandakan bahwa seseorang mencintai dengan sungguh-sungguh?” tanya Adrian seraya membawa cangkir kopi ke halaman belakang. Airin telah duduk bersila di kursi taman. Adrian meletakkan kopi itu di atas meja, lalu duduk di sisi Airin.
108.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 201 kali sebagai filosofi kopi dewi lestari
Baca
+Pustaka
Terpikat Janda Seksi

Terpikat Janda Seksi

“Kopi itu rasa, Ver. Kopi memang tumbuh di bumi sama seperti gula. Tapi yang membuat kopi nikmat bukan cuma takaran. Bukan hanya rasa yang tercipta di atas lidah. Kopi nikmat adalah yang membuat semua indramu bekerja.” “Kopi yang nikmat bukan kopi yang membuat penikmatnya tersenyum. Ada kalanya mereka menangis, tertawa menertawakan dirinya sendiri yang masih belajar memahami panjangnya perjalanan hidup. Kopi yang nikmat akan membuatmu ingat pada satu titik. Titik di mana kita merasa cukup bagi semesta.” Wilda tersenyum lebar, mengakhiri kalimatnya. “Ah, sok filosofis lu,” jawab Vero sambil melempar serbet yang menggantung di bahunya. Serbet yang kini jadi menggantung di wajah tertekuk laki-l
9.9108.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.4K kali sebagai filosofi kopi dewi lestari
Baca
+Pustaka
TANPA BA BI BU HEY NIKAH YU!!!

TANPA BA BI BU HEY NIKAH YU!!!

Bahkan karya yang dipesan orang lain pun seolah mengejeknya. Sore itu, ia turun ke kafe di bawah kompleks rumahnya. Tempat kecil bernama Kopi Tepi Lembah, dengan dinding bata dan musik lo-fi yang tidak berusaha terlalu keren. Pelanggannya kebanyakan mahasiswa ITB, freelancer, dan orang-orang yang suka mengetik tanpa bicara. Barista perempuan di sana — namanya Gio — mengenal Bara karena dua hari lalu ia salah pesan.
912 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 35 kali sebagai filosofi kopi dewi lestari
Baca
+Pustaka
Pernikahan Rahasia Suamiku

Pernikahan Rahasia Suamiku

Alfan turun dengan wajah tenang seperti biasa, meski matanya masih menyorotkan kehati-hatian. “Selamat pagi, Tuan,” sapa Dewi dengan senyum manis yang dibuat-buat. Ia sengaja mengenakan seragam rapi, tubuhnya harum wangi bunga. Alfan hanya mengangguk singkat. “Mana kopi saya?” “Sudah saya buatkan. Khusus untuk Tuan.” Dewi meletakkan secangkir kopi di hadapannya, tatapannya penuh arti.
9.9178.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 3.9K kali sebagai filosofi kopi dewi lestari
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
456789
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status