Resep Rahasia Sang Pecundang
Dengan sebuah megafon murah, suaranya yang serak bergema, mencoba melawan hiruk pikuk kota.
“Jangan biarkan lidah kalian ditipu, Saudara-saudara! Jangan biarkan perut kalian dijajah!” serunya, suaranya bergetar karena emosi. “Mereka memberimu sensasi, kami memberimu kenangan! Mereka memberimu candu, kami memberimu kehangatan! Cicipi! Cicipi kaldu jujur ini! Ingat kembali rasa masakan ibumu! Ingat kembali siapa diri kita!”
Di sampingnya, anggota Aliansi yang tersisa bergerak cepat, menuangkan mangkuk-mangkuk kecil berisi kuah soto bening keemasan dan membagikannya secara gratis kepada siapa pun yang mau mencoba.
Hot Chapters