Idol.
Mereka adalah pusat perhatian di atas panggung, bersinar di bawah sorotan cahaya. Senyum mereka menawan, suara mereka memesona, dan gerakan mereka memukau. Namun, di balik semua itu, tersembunyi kerja keras tanpa henti, tekanan besar, dan tuntutan untuk selalu sempurna.
Maehwa merenungi kata itu. "Idol, ya... jadi mereka semacam bintang yang disembah manusia?" Kalian menyembah manusia? Seharusnya dosa yang kalian sembah!
KJeffrey Smith Nicholas Anderson atau biasa disapa Jeffrey Anderson adalah seorang pria dengan wajah bak Leonardo di Caprio, senyum semanis Antonio Banderas dan tubuh atletis dengan dada bidang dan perut bak roti sobek yang kerap membuat para wanita tak dapat melepaskan pandangannya dari lelaki berambut hitam lurus dan mata biru saphire miliknya itu.
tanya ibunya setengah mengejek Hayu.
“Bu, Hayu itu Jojoba, Jomblo-jomblo bahagia, Bu, maafkan Hayu, jojoba ini, sudah mendapatkan panggilan dari big bos, mamanya Candra. Jadi Hayu tidak bisa menolak,” tutur Hayu pada ibunya.
"Aku emang gak sekaya kamu ya Algi, tapi aku masih punya harga diri. Laki-laki telanjang yang pernah gue liat cuma kamu, barusan! Dih ngapain gue capek-capek jelasin, gak penting juga!"
Puas sekali sudah berhasil membuat mulut Algi tertutup rapat.
"Kamu udah berani nampar aku? Kamu gak tau aku siapa?"
"Algi Darmigo, seorang penyanyi terkenal, papan atas, yang pernah melakukan tour ke seluruh dunia, punya fans jutaan. Siapa yang gak kenal kamu? Sayang aja mereka gak tau kalau ternyata idola mereka gak jauh dari pengecut yang cuma bisa menyembunyikan istrinya!"
TIDAK ADA NAMAKU
(Aku Tidak Terdaftar di Acara Piknik RT)
POV Aarav
"Apa, Yah? Ayah mau melamar Siti untuk Aarav? Tidak mungkin."
"Kenapa tidak mungkin, Rav? Ayah hanya ingin kamu mendapat pendamping yang tepat."
"Bukannya Ayah yang suka sama Siti, karena wajahnya mirip Mama."
Yora diam tidak bersuara, menoleh pada sosok kakak laki-laki yang terlihat cukup tampan dengan rambut yang sedikit menutupi keningnya.
Si gadis kecil adalah penggemar salah satu salah satu idol dari korea, potret idola yang banyak dimiliki dalam sampul buku dan juga beberapa stiker yang dibeli dari uang sakunya.
Dia tidak mengerti kenapa sosok Angga yang dikenal terlihat mirip dengan salah satu idolanya, Park ji-min sekilas Angga mempunyai wajah yang sama ditambah dengan kulitnya yang putih.
Jantung Hazel seolah berhenti berdetak.
Naila Grace.
Nama yang paling tidak ingin ia lihat.
Bukan sekadar pesaing biasa, Naila adalah rival terberat Hazel di industri ini. Licik, ambisius, dan tidak pernah bermain bersih.
Hazel mendongak, menatap Kevin penuh kebencian.
"Apa hanya karena dia wanita yang mudah kau ajak tidur?"
Kevin tertawa, sama sekali tidak tersinggung.
Ardhy mengawali kalimatnya.
"Mungkin boleh saja kita mengidolakan sesuatu atau seseorang. Asalkan tidak secara berlebihan. Berlebihan seperti apa? Contohnya, ketika kita lebih mementingkan menonton idola kita dibanding kewajiban kita sebagai umat muslim, seperti sholat. Jangan sampai kita melalaikan kewajiban kita demi hal-hal duniawi."
"Nah, lalu kenapa harus mengidolakan artis Korea? Kenapa kau tidak mengidolakan Nabi Muhammad S.A.W saja? Bukankah sudah jelas bahwa beliau adalah Nabi kita?"
ulasku mulai bercerita tentang perasaanku yang memang benar-benar merasa iri pada mereka.
“Oya???”
“Kenapa? Kau sepertinya tidak tertarik dengan ucapanku…” jawabku sambil mengerucutkan bibirku ke arahnya.
“Bukan begitu! Aku hanya ingin kau mengetahui yang sesungguhnya. Menjadi seorang idol berarti kau berjanji untuk menjaga semua privasimu, termasuk dirimu sendiri saat berada di tempat umum. Bahkan, aku juga harus menjaga image dan attitudeku di depan masyarakat yang mengenalku. Kalau saja ada sedikit cela yang mereka dapat tentangku, seketika itu juga aku akan jatuh dan semua yang ku capai takkan ada harganya lagi…” Ucapan Lee Sin membuatku merinding. Dia jug
Jawab melda
" Iya benar, materi yang diambil untuk ulangan hari ini dari materi pertama, sampai logaritma yang minggu kemarin " Kata ibu Ida dengan suara yang lantang
"Wah,,, kebanyakan bu" Seru Yudi
"Kebanyakan!? " Yakin? Kebanyakan atau kamu tidak belajar? Hah?! " Tanya ibu Ida seperti menginterogasi
"Mm,,, bukunya ketinggalan bu" Jawab Yudi mencari alasan