Sentuh Aku, Pak!
***
Pukul tujuh kurang lima belas, Keina berdiri di depan cermin untuk terakhir kalinya.
Blazer putih tulang, celana bahan hitam, flat shoes coklat muda. Rambut digerai lurus dengan sedikit disisir, tidak terlalu formal, tidak terlalu kasual. Tas kulit kecil berwarna krem yang sudah dia isi dengan dompet, pouch makeup tipis, dan ponsel beserta charger-nya.
Oke. Ini sudah maksimal.
“Kita berangkat barengan.” Kahfi muncul di balik pintu kamar, sudah rapi dengan kemeja abu-abu dan jam tangan di pergelangan kirinya. “Saya antar.”