Bukan Bunga Bakung
cerita kakek Sabda.
“Tapi nenek moyang kita orang-orang yang panjang akal. Suatu waktu mereka menemukan sejumlah Musang/Luwak penggemar buah kopi. Namun, hanya daging buah yang dicerna perut Luwak. Kulit ari dan biji kopinya utuh. Dan karena ingin ngopi, biji-biji kopi yang tercampur kotoran itu mereka pungut, dicuci, disangrai, ditumbuk, kemudian diseduh dengan air mendidih, lalu terciptalah kopi Luwak legendaris yang kini harganya selangit itu,” kembali kakek Sabda bercerita.