Nasi Bungkus untuk Laila
Cintanya pada Laila seperti angin, tak terlihat tapi dapat dirasakan, ia menyadari Laila adalah lentera hatinya, yang menyala memberi semangat hidup, kini lentera itu mati, karena pemiliknya memadamkannya.
"Lailaaa ... mengapa kamu melakukan ini, padaku? Mengapa kamu mematahkan hatiku setelah kamu meluruskannya? Mengapa, Laila? Mengapaaa ...?" teriaknya frustasi, ia menarik rambutnya dengan cukup keras, lalu menjatuhkan kepalanya diatas kemudi, menangis dengan hati yang sangat hancur.
*****
Sikat na Kabanata