Dendam Dan Pengkhianatan
“Lepaaaaas!”
“Lepaskaaaan!!!!
“A- aku, biarkan aku maaaaaaaati!”
“Hik, hik, hikkk....”
Ya, Gendis tak perduli pada sosok asing itu, dia tetap menangis, berteriak, histeris dan terus saja memberontak dan tak ingin diselamatkan, namun pegangan erat itu mendekap dengan begitu kencang, tak sebanding dengan tenaga Gendis yang hanya sebagai seorang perempuan lemah tak berdaya bahkan kalah tenaga, kali ini dia benar-benar sudah kehabisan energi dengan semua apa yang dia lewati.