BUKAN MENANTU KAYA
“Khalid mana?“ tanyanya sambil mencocolkan mangga muda ke sambal rujak.
“Khalid tidur. Awas, jangan dibangunkan. Kasihan dia,“ jawab Uwak Piah.
“Yaah ... Padahal Ningrum ngajakin foto bareng.“
Aku terbatuk saat mendengarnya. Uwak Piah segera memberiku air, “hati-hati,“ katanya sambil melirikku cemas.
“Serius, Mas?“ tanyaku dengan mata membulat sempurna. Mas Hasan mengangguk.
“Kalau begitu biar Aku bangun—“
“Jangan ah, kasihan.“ Uwak Piah memotong. “tapi, Wak ...“
Belum selesai aku berbicara, Khalid menangis. Dia berjalan dengan mata setengah terpejam. Mas Hasan segera menangkapnya, lalu menciumi perut Khalid hingga dia tertawa.
Hot Chapters