SANG MENANTU TERBUANG
Ia tidak ingin melihat sorot mata Kinanti, tetapi bayangan pantulan gaun sutranya di lantai membuat kepalanya semakin tertunduk.
“Cepat sedikit, pecundang,” Kinanti akhirnya bersuara, menggunakan sebutan yang hampir menjadi nama panggilannya. Ia menyesap kopinya dengan elegan, seolah pemandangan suaminya berlutut membersihkan pecahan kaca adalah hal yang biasa—dan memang, itu adalah rutinitas yang biasa.
“Kau tahu, Arya,” Kinanti melanjutkan, suaranya kini terdengar seperti belati yang diasah,
Bab Populer