Gadis Kesayangan Tuan Adrian
Dan aku tetap berdiri di tempatku, mencoba mencerna apa yang kudengar.
Aku menelan ludah, membasahi tenggorokan yang terasa kering.
Ragu, tetapi pada akhirnya aku bertanya, “A-apa—”
“Kamu tidak salah dengar, Melati,” potongnya. “Selama ini, Adrian tidak pernah “menyentuhku”.”
Kalimat itu meluncur datar. Tanpa penekanan. Tanpa drama. Namun justru karena itu, rasanya menghantam lebih keras.