KISAH CINTA YANG TERNODA
Bu Masita menelan ludah, rasanya ingin mengucap kata maaf, namun masih ada rasa enggan sebab hatinya penuh rasa pongah dan jumawa.
Tak ada tobatnya ibu ini.
“Ini, Bu. Saya hanya bisa berikan beras lima kilo, ini beras bersih, bukan beras bulog, ibu tidak suka kan, makan beras bulog yang banyak padinya dan tak bersih.” Sawitri menyodorkan lima kilo beras bersih yang ia beli di toko, sebelum jatah berasnya keluar minggu lalu. Sawitri bungkus beras itu menggunakan plastik kresek warna hitam tiga lapis.