Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Gadis Penantang Takdir

Gadis Penantang Takdir

Maka, sindir dan cacian yang hanya bisa ia lontarkan untuk seseorang yang hampir dua dekade ia anggap sebagai seorang pembunuh. "Seseorang yang kamu sebut sebagai pembawa sial ini kini telah berjaya menaikkan saham perusahaan, Ondel-ondel Tua! Seharusnya kamu bangga dan berterima kasih padaku saat ini, bukan malah menyebutku pembawa sial," sahut Agni masih terlihat tenang dengan senyuman culas yang menghiasi wajahnya. "Cih! Tak sudi aku bangga apalagi sampai berterima kasih padamu! Dasar pembunuh!" maki Sherina terus-menerus menyebut Agni sebagai pembunuh.
102.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 48 kali sebagai puisi anti perundungan
Baca
+Pustaka
Dokter Sakti Penguasa Dunia

Dokter Sakti Penguasa Dunia

Yang disebut adu puisi adalah dua orang akan membuat puisi dengan tema yang sama, lalu mereka akan membandingkan mana yang lebih unggul. Nazar melantunkan, "Hujan turun, bala awan bentangkan perang, panglima bunga dan rumput saling menyerang. Pasukan bantuan dipanggil tergesa-gesa, bibir dan lidah beradu, memercikkan cahaya asmara."
9.51.1M DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 25.8K kali sebagai puisi anti perundungan
Baca
+Pustaka
Thirty Days

Thirty Days

Dan perundungan tidak pernah pantas disandingkan dengan cinta. "Kalau kau kesal diperlakukan seperti itu, mengapa tidak melawan?" suara menyebalkan milik sang satpam mengganggu ketenangan Nohan lagi. "Kalau dilawan apa musuh itu akan diam? Akan berhenti bertindak mengerikan?" tanya Nohan dengan nada menohok tajam, "Tidak perlu menasihatiku seolah kau makhluk paling benar di dunia, ketimbang kau menasihatiku! Nasihati saja dirimu, kau kan tak jauh berbeda dari monster mengerikan, Pak!" lanjut Nohan dengan nada yang lagi-lagi menohok.
2.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 86 kali sebagai puisi anti perundungan
Baca
+Pustaka
Di Balik Rupa Burukku

Di Balik Rupa Burukku

Hasan kembali ke kesadarannya, dia melangkah menuruni tangga dengan langkah yang agak cepat, ketika tinggal beberapa anak tangga lagi mencapai lantai, mereka semua berhenti melangkah karena di lantai sudah berkerumun para mahasisiwa, mereka berdiri dengan berhimpitan seperti mahasiswa yang sedang berdemo, mereka kembali membawa foto pamflet yang ada foto Aina dan Hasan, juga tulisan di atas kertas HVS beberapa tulisan bertuliskan 'bersihkan kampus dari hal negatif' namun satu tulisan membuat darah Hasan mendidih. 'Usir gadis jalang! Kampus adalah institusi, bukan tempat prostitusi'
1084.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.1K kali sebagai puisi anti perundungan
Tampilkan Ulasan (26)
Baca
+Pustaka
smk sumbangsihm2
Salam kenal kak.. pertama baca gara2 lokasi cerita di kampung halaman aku. sepertinya kak author sangat mengenal kota Jambi. Aku seperti pulang kampung karena semua lokasi yg disebut langsung terbayang, apalagi setting thn 1997. Tahun terakhir sebelum merantau. Semoga sukses selalu yah
Agus Irawan
Gadis Desa itu merantau ke kota Jakarta, entah mendapatkan nasib manis atau sial. yang jelas menurutnya nasib sial. karena telah dipertemukan dengan seorang pengusaha sekaligus tunangan majikannya. Baca novelnya. "Kembang Desa Sang Miliarder. nama pena" Agus Irawan.
Baca Semua Ulasan
Kami Yang Tak Pernah Ada di Hatimu

Kami Yang Tak Pernah Ada di Hatimu

Tulang berulang bagai terlepas dari persendiaan. Ya Allah, sakit sekali hati ini. "Pandainya kamu menutupinya dariku Mas. Keterlaluan kamu. Aku menaruhmu di atas langit, kau duniaku, semua baktiku hanya kupersembahkan untukmu. Tapi ini balasan yang kuterima Mas. Kau sudah menghancurkan hidupku."
9.8137.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 5.4K kali sebagai puisi anti perundungan
Baca
+Pustaka
Perempuan Yang Terbuang

Perempuan Yang Terbuang

Bagaikan cerita di film aksi, apartemen kumuh yang semula sepi dan diabaikan orang yang lalu lalang kini menjadi pusat perhatian karena adanya pengepungan yang dilakukan Alice bersama anak buahnya. Aparat setempat memilih diam terlebih dahulu karena menganggap pengepungan yang dilakukan Alice adalah perang antar geng atau klan yang hendak menguasai daerah tertentu untuk transaksi ilegal yang dilakukan mereka.
103.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 116 kali sebagai puisi anti perundungan
Baca
+Pustaka
Perempuan Yang Kalian Remehkan

Perempuan Yang Kalian Remehkan

Bagi orang lain mungkin itu hanya tumpukan barang. Tapi bagi Freya — itulah bukti bahwa ia masih bisa berdiri, meski dihina, direndahkan, dan tak pernah dianggap. > “Tidak apa-apa,” bisiknya pelan. “Aku akan terus berjuang. Suatu hari... mereka akan lihat hasilnya.”
874 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 31 kali sebagai puisi anti perundungan
Baca
+Pustaka
Sang Penentang Aturan

Sang Penentang Aturan

Wo Long Menatap Lian, suaranya dipenuhi otoritas "Kau menantang kami? Kau menghina usaha kami di bukit yang kau sebut sarang tikus? Aku akan memberimu tantangan yang pantas." "Kau bangga dengan Ranah Pemurnian Qi-mu, bukan? Kau bangga dengan pil yang dibelikan orang tuamu, bukan? Dengarkan baik-baik, Lian. Kami, para 'sampah' ini, tidak akan melawanmu hari ini." Lian malah tertawa mengejek "Haha! Pecundang yang selalu lari mencari alasan!" Wo Long mengabaikan ejekan Lian, suaranya semakin keras dan tajam, menembus kerumunan "Kami tidak lari. Kami sedang menyiapkan panggung untuk kehancuranmu yang terhormat."
103.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 65 kali sebagai puisi anti perundungan
Baca
+Pustaka
SANG PETARUNG

SANG PETARUNG

Aliyev menyayangkan sikap tidak hormat semacam itu terhadap lawan. “Menyerahlah, ikan asin!” koarnya sambil menjulurkan lidah. Gayanya sangat sombong luar biasa dan seakan-akan pasti bakal memenangkan laga. Petarung melakukan ini selain merusak konsentrasi musuh dan menghancurkan mentalnya juga demi menarik perhatian orang-orang. Biar ketenarannya naik melalui tindakan provokatif dan nyeleneh. Padahal jelas itu hanyalah bumerang untuk dirinya saja.
800 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 32 kali sebagai puisi anti perundungan
Baca
+Pustaka
RENATA DAN SAMUDERA BIRU

RENATA DAN SAMUDERA BIRU

Berusaha menyelamatkan para bawahannya dari atmosfir intimidasi yang luar biasa itu. Singgih Wirayudha mengacungkan pedang dengan tangan kiri. “Saudaraku! Aku tahu kalian takut dan lelah! Aku pun demikian, sama takut dan lelahnya seperti kalian! Tetapi, jika kita menyerah sekarang, maka orang-orang yang kita cintai dan seluruh makhluk di semesta ini akan jatuh ke dalam penderitaan dan kegelapan selamanya! Apakah kalian rela melihat mereka menderita?! Apakah kalian sudi hidup di bawah kaki iblis-iblis terkutuk?! Saudaraku! Dari pada hidup panjang tetapi menjadi budak, bukankah lebih baik berkalang tanah dengan terhormat?! Bangkitlah Saudaraku! Hunus senjata kalian! Perjuangkan kehormatan kali
1013.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 401 kali sebagai puisi anti perundungan
Tampilkan Ulasan (74)
Baca
+Pustaka
Dewa Amour
Samudra Biru, sungguh nama yang indah dan terkesan kharismatik. Gue suka beet cerita fantasi. Begitu baca blurd novel ini langsung mampir, dan ... jatuh cinta untuk membacanya sampai end. Salut buat yg nulis. Sehat terus ya, Thoorr ...
kinoy.raomi
baca ini karena baca promosi authornya., eh pas baca.. wah gila sih.. langsung jatuh cinta... kerenn.. sukakkk... up yang rajin up nya thor biar bisa nangkring di depan.. sayang kalok cerita sebagus ini sepi2 aja hehe
Baca Semua Ulasan
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status