Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Air Mata di Antara Bunga

Air Mata di Antara Bunga

Saat pintu didorong terbuka, Rangga hampir mendongak dengan penuh harap. Namun begitu melihat sosok Sarah, cahaya di matanya seketika padam. “Bagaimana kamu bisa masuk?” tanyanya dingin. Sarah tersenyum menjilat, suaranya dibuat manja. “Semua password-mu ‘kan tanggal lahirku, tentu saja aku tahu.” Rangga tertegun. Bahkan dirinya lupa, semua sandi memang memakai tanggal lahir Sarah.
28.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.1K kali sebagai puisi matahari
Baca
+Pustaka
PERTAMA UNTUK NAIMA

PERTAMA UNTUK NAIMA

Tidak ada yang membuatnya merasakan perasaan ingin selalu memiliki dan takut kehilangan selain Naima. “Bulan selalu setia menunggu matahari datang ya, Yang. Padahal bulan tahu, saat matahari muncul, ia akan kalah oleh teriknya matahari yang menyilaukan,” cicit Naima, memandang surai-surai sinar fajar yang mulai menyingsingkan pekat. Bulan masih setia di langit, ia tak goyah. Hingga beberapa saat, mentari mulai menunjukkan kuasanya akan fajar. Dan bulan hanya menemani dan menanti awan menenggelamkannya di langit siang.
1037.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.5K kali sebagai puisi matahari
Tampilkan Ulasan (53)
Baca
+Pustaka
athena_vivian
asekkkkkk, gue suka gaya Naima!! Jadi cewek emang harus tahan banting selain tahan yang lain. Bab-nya udh banyak, y, Kak...gratis satu bab, donkkkk................., tapi, Naima kaya Alice in Wonderland, ya...having great experiences in another places....
Kiki Sulandari
Naima speechless,ketika tahu hadiah kalung emas putih dengan bentuk infinity bukan berasal dari Jaka melainksn dari Albe Apakah Naima akan memakai kalung itu? atau mengembalikan kalung itu pada Albe?
Baca Semua Ulasan
Pura-Pura Mati

Pura-Pura Mati

Setelahnya, aku tidak ingat apapun lagi. Setelah entah berapa lama aku tidak merasakan apapun di dalam tubuhku. Tiba-tiba, aku merasakan tubuh ini seperti dijemur di bawah sinar matahari. Mengusik tidurku yang panjang, untuk membuka mata. Pelan tapi pasti aku bisa melihat di sekeliling tempat ini. Hamparan air dan biru, dan pasir putih mengapit diri ini.
102.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 73 kali sebagai puisi matahari
Baca
+Pustaka
Mata Elang

Mata Elang

Pengunjung yang sudah biasa mendengarkan itu hanya berlalu tanpa menanggapi, karena suaranya tidak jelas, seperti orang berkumur saking cepat perkataannya. Matahari sudah meninggi, waktu berputar tanpa lelah meninggalkan orang yang kalah. Memberi kesempatan yang menggunakannya, mengobati luka yang semakin lama semakin terbiasa. Sean sudah selesai bekerja, hari ini dia akan mencoba membelikan ramen instan pedas kesukaan Anthony, siapa tahu kali ini bisa membuatnya untuk berselera makan.
108.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 228 kali sebagai puisi matahari
Baca
+Pustaka
AIR MATA RINDU

AIR MATA RINDU

Hanya saja tidak bisa sebab Ibu ada di tengah-tengah kami. "Kamu nggak kepanasan, Sayang?" tanyanya yang langsung kujawab dengan gelengan. Waktu masih menunjukan pukul 10 pagi, dan aku bisa menikmati panas ini. Beda lagi jika matahari sudah naik ke atas kepala nanti. "Terus mau sampai kapan di sini?" "Nggak tahu." Aku menjawab sembari menggeleng pelan.
1013.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 275 kali sebagai puisi matahari
Baca
+Pustaka
Ujung Senja

Ujung Senja

Aku mengangkat kepala dan melihat Handoko berdiri dengan wajah ruang di depanku. “Matahari minder pagi ini,” ujarnya sambil menatap langit. “Maksudnya?” Aku menghentikan kening. “Lihat ke atas, matahari saja tak berani menunjukkan sinarnya, sebab ia kalah terang dengan pesonamu, Era.” Astaga, lelaki ini pujangga nyasar mungkin. “Boleh aku duduk sampingmu, Era?” “Tentu saja.” Aku menjawab cepat seraya menggeser badan. “Tempat ini terbuka untuk umum, dan juga bukan milikku. Jadi kamu bebas mau duduk di mana pun.”
108.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 218 kali sebagai puisi matahari
Baca
+Pustaka
Mati Satu Tumbuh Seribu

Mati Satu Tumbuh Seribu

Tempat ini tadi siang masih terlihat megah seperti mimpi, tapi kini sudah jadi kacau balau! Aku menggertakkan gigi, lalu bertanya sambil menahan emosi, "Siapa yang sudah melakukan semua ini?" "Plak!" Wanita itu bukannya menjawab, malah menamparku, "Aku yang sudah melakukannya! Aku Rani Harun, dan hari ini aku akan membuat wanita nggak tahu malu sepertimu merasakan akibatnya!" Tamparannya membuatku hampir terjatuh. Aku yang masih syok pun bergumam, "Rani Harun?"
8.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 165 kali sebagai puisi matahari
Baca
+Pustaka
Purnama

Purnama

] [Aku ingin kamu tidak bekerja, fokus di rumah mengurusku, Langit dan anak-anak kita nantinya] [Sama sekali tidak boleh bekerja? [Kalo bisa seperti itu, biarkan aku yang menanggung semua kebutuhanmu dan anak-anak kita.] Purnama membaca setiap kata yang diutarakan Surya. Ponselnya kembali berbunyi, pesan dari Surya kembali masuk. [Kalau kau ingin memiliki aktivitas untuk mengamalkan ilmumu aku tidak akan melarang, tetapi sebisa mungkin tidakmenyita waktu.]
102.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 100 kali sebagai puisi matahari
Baca
+Pustaka
SETELAH AKU HANCUR AKU MEMILIH HIDUP DAN MENCINTAI LAGI

SETELAH AKU HANCUR AKU MEMILIH HIDUP DAN MENCINTAI LAGI

Aku menyalakan buku catatan kecilku: “Mentari telah tenggelam, tapi aku masih punya banyak matahari untuk dinanti. Beberapa orang terbang jauh seperti yang pernah menemaniku. Tapi aku belajar bahwa matahari bukan milik siapapun. Ia hanya berganti tempat setiap hari.” Aku menutup buku. Hujan rintik lagi. Aku menarik napas panjang. Dan aku tahu… Aku masih berjalan. Masih berani berkata.
101.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 27 kali sebagai puisi matahari
Baca
+Pustaka
Legenda Dewa Cahaya

Legenda Dewa Cahaya

sahut Shi Yun. "Matahari...? Mustahil!" Bola cahaya itu memancarkan cahaya yang sangat terang dan juga hawa yang sangat panas. Bara segera mundur menjauh dan menanti Murta bangun untuk menghadapi Matahari ciptaan dirinya tersebut. Akhirnya Murta pun bangun dari dalam pasir yang menguburnya. Dia mengusap darah hitam yang keluar dari sela bibirnya.
1076.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.3K kali sebagai puisi matahari
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status