Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
PELITA DI TENGAH GELAP

PELITA DI TENGAH GELAP

Cahaya kecilnya memantul di dinding, menari lembut bersama bayangan daun di luar jendela ia menatapnya lama, lalu mengambil buku hariannya dan menulis satu halaman terakhir, “Kami sudah melewati hujan, badai, dan malam yang panjang. Tapi dari semua itu, aku belajar satu hal, pelita yang paling kuat bukan yang paling terang, melainkan yang tetap menyala bahkan ketika angin mencoba memadamkannya. Dion aku janji, pelita ini akan terus ada. Untukku, untuk Dinda, dan untuk siapa pun yang percaya bahwa kejujuran masih punya tempat di dunia.”
746 viewsCompletedAdded to Library 22 Times as puisi pablo neruda
Read
+Library
Tulang Rusuk

Tulang Rusuk

POV ZEa lanjutan dari bab sebelumnya Dear pohon cinta, "Kaulah nyala senja yang diam-diam mengupas warna segar kupu-kupu dan aku tumbuh seperti laut waktu memberiku air gairah atas hidup. Barangkali kesengsaraan itu telah menjadi matang dan sempurna. Namun ketahuilah, tak ada luka yang sembuh hanya dengan kalimat-kalimat kebijaksanaan.
106.0K viewsOngoingAdded to Library 241 Times as puisi pablo neruda
Read
+Library
Menunggu Bulan

Menunggu Bulan

*** Puisi Kerinduan *** Kurangkai sebait puisi sederhana Tempatku menuangkan segala asa Kupersembahkan khusus untukmu Wahai ... sang pemilik rindu Di sini ku terdiam Terbelenggu tabir hitam Entah kapan engkau datang Membawa secercah harapan Wahai ... sang Bayu Cukuplah engkau bersamaku Mendengarkan nyanyian pilu Dari jiwa yang terpaku Walau lelah Walau payah
2.9K viewsOngoingAdded to Library 60 Times as puisi pablo neruda
Read
+Library
AEONIAN : Yang Pernah Terjadi Akan Abadi

AEONIAN : Yang Pernah Terjadi Akan Abadi

Mengapa kau mengalir pergi Kala ucap terpatri di hati Akankah kau buktikan kau benci dirimu sendiri Kau tolak empat mata Namun, kau suka main mata Nan, bolak balikkan kata Laksana bunga tidur yang terasa Pijar yang ku cari Bukan kata manis yang kau beri Nostalgia yang ku rasa Apa kau merasa hal yang sama? Iblis kejam... Lihat tanda tanya ini Bisakah kita menjadi sahabat? Atau Berteman hingga akhir hayat? Nan, maaf kutelusupkan kau dalam puisi ini 26-04-2018 “Siapa yang menulis puisi ini? Tidak ada penulisnya” ucap Arka “Mungkin di kotak tadi ada sesuatu yang lain” lanjut Arka sambil turun dari kasurnya mengambil kotak yang dia banting tadi
107.3K viewsCompletedAdded to Library 212 Times as puisi pablo neruda
Read
+Library
Badai Telah Reda, Kau Pun Tiada

Badai Telah Reda, Kau Pun Tiada

Nomor baru Ginos masih ada di daftar blokirnya, Susan tidak melihat pesan terakhir yang dia kirim. [Susan, aku mengorbankan hidupku untuk meminta maaf, bisakah kamu memaafkanku?]
17.1K viewsCompletedAdded to Library 685 Times as puisi pablo neruda
Read
+Library
DI PEMBERHENTIAN TERAKHIR

DI PEMBERHENTIAN TERAKHIR

♡ Sejak kubertemu denganmu Kau menjadikan dirimu segalanya bagiku Di pagi hari, kau adalah embun yang menyejukkan hatiku Di siang hari, kau adalah matahari yang menyinari hariku Di malam hari, kau adalah rembulan yang menerangi langkahku Terima kasih, Karena telah menjadi seseorang yang berarti dalam hidupku ♡ Puisi yang saat itu aku anggap lebay dan norak! Jadi itu Reno?
8.1K viewsCompletedAdded to Library 308 Times as puisi pablo neruda
Read
+Library
Si Lesung Pipi

Si Lesung Pipi

Pernah mewarnai dunia Puisi terindahku hanya untukmu Mungkinkah kau kan kembali lagi Menemaniku menulis lagi Adam sudah merebahkan diri di lantai saat Reff itu masih berlanjut. Dinginnya lantai semoga bisa meredam panas di dalam dada. Kita arungi bersama Puisi terindahku hanya untukmu. Dengan masih tetap memegangi dada, dia meringkuk menangis berteriak tanpa suara. Melepaskan semua, mencoba menerbangkan ke langit, semoga terbawa oleh angin dan mengubur di suatu tempat yang tidak bisa djangkau oleh siapapun. Semua rasa cinta dan patah hati. semua penyesalan dan harapan.
109.8K viewsCompletedAdded to Library 390 Times as puisi pablo neruda
Read
+Library
Cinta di Balik Singgasana

Cinta di Balik Singgasana

katanya, suaranya lembut. Ia meraih kain kecil dari pakaiannya. Puisi pendek tertera di sana, ditulis dengan aksara halus Di tepi kolam, bawah ketapang tua, Hati kita bebas, meski dunia menutup. Jika takdir memisah, di bukit ‘kan kutunggu, Dengan melati dan kenanga, untukmu selalu. Raka membaca puisi itu. Jantungnya berdegup keras. “Ini… indah, Gusti,” katanya, suaranya serak. “Aku simpan ini, sebagai pengingat.”
833 viewsOngoingAdded to Library 22 Times as puisi pablo neruda
Read
+Library
Gairah Cinta CEO dan Peramalnya

Gairah Cinta CEO dan Peramalnya

Pagi: “Menulis Puisi Kehilangan” Sesi pagi ini dipandu oleh Mbak Nisa, seorang penyair yang juga pernah mengalami kehilangan mendalam. Ia meminta semua peserta menulis puisi tentang orang yang telah pergi—bukan untuk meratapi, tetapi untuk merayakan cinta yang pernah ada. Anya menulis perlahan, kata demi kata. Puisinya sederhana, tapi penuh kejujuran: Aku pernah menunggumu pulang,
102.2K viewsCompletedAdded to Library 84 Times as puisi pablo neruda
Read
+Library
Tersandung Cinta Tuan Muda

Tersandung Cinta Tuan Muda

“Aku menyesal... terlalu banyak. Tapi penyesalan tidak bisa mengubah apa pun, kan?” “Tidak,” jawab Naira singkat. “Tapi itu bisa jadi awal.” Adrian menatapnya dengan mata sayu. “Setiap malam, aku membaca kembali catatanmu. Puisi-puisi yang kau tulis, setiap barisnya seperti pisau untukku.” “Puisi itu bukan untuk menyakitimu,” ujar Naira. “Tapi untuk menyembuhkan diriku sendiri.”
1.0K viewsCompletedAdded to Library 39 Times as puisi pablo neruda
Read
+Library
PREV
123456
...
9
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status