Ranjang Kehidupan
“Iya, Kak!”
Pukul sebelas malam, udara dingin merasuk menelusup pada setiap persendian. Rania menghabiskan waktu dalam lamunan, di depan rumah. Suara angin terdengar nyaman di telinga, dari kejauhan tercium aroma nasi goreng, itu berasal dari penjual nasi goreng yang berada di seberang jalan, sekitar lima puluh meteran. Seketika perut Rania terasa lapar. Dia mengambil handphone dari meja kecil di sebelahnya, mengirim pesan singkat kepada adiknya, dia yakin Asya pasti belum tidur.
“Kamu mau nasi goreng?” tanya Rania pada pesan singkat.
Hot Chapters