Salah Melamar
ucapnya yang hendak mengayunkan tangannya.
“Jangan. Dijah mau,” ucapku yang memegang tangannya, hendak merebut. Seketika sebuah aliran listrik menjalar ke tubuhku. Irama jantungku kembali tak terkontrol. Aku menatap Mas Ammar, dimana ia juga melakukan hal yang sama. Pandangan syahdu, yang saling menyelam satu sama lain. Kini aku paham sekali wajah lelaki itu, memilik manik mata hitam yang bagian tengahnya berwarna coklat, hidungnya mancung, tapi jika dilihat dengan jelas tampak beberapa komedo di bagian ujungnya, berikut dengan alis tebal yang membuat kesan galak pada wajahnya.
“Bayarnya pakai mie instan. Buatkan aku mie instan. Aku mau lembur,” ucapnya.
Hot Chapters