GEMA JATI
Cengkeraman tangan lepas, jemari Adipati Dristan berpindah mengelus pelipis Jati yang bebas darah.
“Aku benci matamu. Tatapanmu pun tidak kusuka.”
Seolah tidak mengharapkan tanggapan, jemari Adipati Dristan bergerak turun, mengelus bibir Jati yang nyaris seluruhnya tertutupi darah.
“Bibirmu cantik. Terlalu cantik.”
Jemari putih itu berpindah lagi, bergerak ke pipi Jati.
“Baru remaja, wajahmu sudah sangat menawan. Kamu pasti akan jauh lebih menawan saat dewasa, mungkin beberapa tahun yang akan datang.”
ตอนยอดนิยม