Malam Pertama Sang Istri Kontrak
Rumah itu akhirnya benar-benar jadi tempat pulang, bukan hanya untuk tubuh, tapi juga hati.
Hujan turun sejak sore, tidak deras, tapi cukup membuat udara jadi lembab dan sejuk. Suara air yang menetes di atap seng terdengar pelan, berpadu dengan bau kopi yang baru diseduh Aisyah. Di meja, dua cangkir berisi uap hangat berdampingan, sementara Arga duduk di kursi menatap jendela yang buram oleh embun. “Kamu sadar gak, Yah,” katanya pelan tanpa menoleh, “hujan sekarang gak lagi bikin aku gelisah.” Aisyah berhenti meniup kopinya, lalu menatapnya. “Kenapa?” Arga mengangkat bahu. “Dulu setiap hujan aku inget hal buruk—waktu kita berantem, waktu aku pergi, waktu kamu nangis di ruang tamu sendirian.
Hot Chapters