Terjerat Takdir Tuan Saka
Matanya sembab, tubuhnya berat, dan pikirannya penuh dengan bayangan mimpi semalam yang tak juga hilang.
Setelah mandi, ia memilih mengenakan hoodie yang sedikit besar, berharap bisa menutupi kegelisahan yang masih membekas di tubuhnya. Rambutnya belum kering sempurna saat melangkah ke dapur, dan di sana...
"Pagi," sapa Arum sambil membalik roti di wajan.
Suara itu… netral. Seperti biasa. Namun bagi Saka, kedengarannya seperti mimpi semalam, lembut dan begitu sabar. Ia langsung menoleh ke arah lain. "Pagi."