Di Ujung Senja
Tas itu ternyata sebuah cooler bag, isinya bukan es krim atau makanan yang perlu dijaga suhu dinginnya, melainkan sebuah pompa ASI elektrik, ice bag dan beberapa kantong ASI berisi ASI perah yang masih terasa hangat itu.
Adnan mengangkat wajahnya, menatap Redita yang kini terisak di hadapan Adnan sambil menundukkan kepalanya. Dengan sedikit bergetar, Adnan meraih salah satu kantong ASI dari dalam sana. Di permukaan kantong itu tertulis tanggal ASI diperah, jam ASI selesai diperah dan sebuah nama yang sontak membuat hati Adnan bergejolak luar biasa.
“Adta Sanjaya?” guman Adnan dengan suara bergetar hebat, ia kembali menatap Redita yang masih sibuk menangis sesegukan itu.