Rimba Memburu Senala
Angin mendesir pelan, seolah-olah waktu sendiri sedang menimbang niat di dada Jiang An.
Akhirnya, Qisao mengangkat tangannya lalu membentangkan jari-jari yang membentuk pusaran cahaya. Di dalamnya tergambar momen-momen kecil: tawa anaknya, kursi goyang di rumah kayu, dan suara lonceng jam saat anak itu berlari ke arah matahari.
“Waktu,” suara Qisao menggema, “bukan tali untuk digenggam, tapi arus untuk direnungi. Kau tak bisa kembali dengan tubuh, hanya dengan luka.”
Hot Chapters