Library
Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Tukar Pasangan (Jodoh)?

Tukar Pasangan (Jodoh)?

Baiklah, sepertinya memang gue enggak ada pilihan selain duduk di samping Bu Wini dan Pak Joan karena yang lain udah penuh. Alhamdullilah meski cukup sulit dengan perjuangan gue bisa sampai juga di kursi yang letaknya diapit oleh Bu Wini dan Pak Joan. Dapat dipastikan mereka langsung bersorak apalagi Bu Wini, dia langsung menggoda saat gue bergerak mendekat karena belum juga gue duduk, Bu Wini udah caper. Dia menunjuk-nunjuk seseorang di belakangnya yang sedang sibuk menulis.
9.8396.7K viewsCompletedAdded to Library 14.3K Times as where did the writer sit
Read
+Library
Sang Legenda dalam Takdir Tuan Muda

Sang Legenda dalam Takdir Tuan Muda

“Letakkan kertas itu di pangkuanmu. Aku akan bacakan itu untukmu.” Meja di hadapanku yang dijadikan tempat diletakkannya mic-mic wartawan ditutup oleh kain bercorak, sehingga aku bisa meletakkan kertas itu dengan leluasa. Susunan duduk di meja panjang itu ada ‘Mama’ ujung sebelah kiri, Vina di sebelah kanannya, Viona sebelah kanannya, dan aku ujung paling kanan.
2.2K viewsOngoingAdded to Library 76 Times as where did the writer sit
Read
+Library
Suamiku Bukan yang Kukira

Suamiku Bukan yang Kukira

Di depanku, ada meja, buku, dan pena yang berkilau. Sinta duduk di seberang meja, tersenyum. “Selamat datang, penulis baru.” Aku menatap pena di tanganku. Ada satu kalimat yang terukir di sisi logamnya, kalimat yang membuat tubuhku gemetar. “Cerita ini hanya hidup jika kau memilih untuk menulisnya.” Aku menatap halaman kosong di depanku. Cahaya dari langit menetes lembut ke atas kertas, menunggu kata pertama.
819 viewsOngoingAdded to Library 22 Times as where did the writer sit
Read
+Library
DOKTER SETAN

DOKTER SETAN

Seketika, dunia terbalik. Aku terbangun. Tapi bukan di rumah sakit. Bukan di laboratorium. Aku berdiri di halte kecil. Hujan turun deras. Di sebelahku: Intan. Membaca buku. Terlalu tenang. “Kamu sadar?” tanyanya tanpa menoleh. “Di mana kita?” Ia menutup bukunya pelan. “Kita baru mulai menulis cerita kita sendiri.”
1.7K viewsOngoingAdded to Library 64 Times as where did the writer sit
Read
+Library
Setelah Kamu Pilih Dia

Setelah Kamu Pilih Dia

“Dan aku akan terus berdiri di sini.” ⸻ Siang harinya, Dinda menghadiri workshop penulis yang dulu sering ia hindari. Kali ini, ia duduk di barisan depan, berani mengangkat tangan, menjawab pertanyaan, bahkan menceritakan sedikit tentang latar kisah novelnya. Seorang peserta bertanya, “Apa yang paling sulit waktu kamu nulis cerita ini?”
88.6K viewsOngoingAdded to Library 224 Times as where did the writer sit
Read
+Library
Saat Cinta Menyapa Lagi

Saat Cinta Menyapa Lagi

Hanya ada sebuah meja kayu kecil dengan selembar kertas putih dan sebuah pensil kayu biasa. "Ini adalah 'The Writer's Desk'," bisik Nara. "Ini adalah titik nol. Di sini, makna tidak diberikan oleh penulis, tapi ditemukan oleh karakter itu sendiri." Nara memberikan pensil itu kepada pria tanpa wajah. "Tuliskan maknamu sendiri. Bukan sebagai bagian dari plotku, bukan sebagai bagian dari mimpi manusia, tapi sebagai dirimu sendiri."
965 viewsOngoingAdded to Library 20 Times as where did the writer sit
Read
+Library
Kau Buang Aku, Kunikahi Bosmu

Kau Buang Aku, Kunikahi Bosmu

Tanpa basa-basi sedikitpun wanita itu langsung melangkahkan kakinya masuk ke sebuah bangunan yang kini tampak sedikit ramai karena memang dikunjungi oleh banyak orang. Siti lantas memilih tempat duduk yang tak terlalu jauh dari pintu masuk agar editornya bisa langsung mengenalinya jika datang. Tak berselang lama seorang wanita berjas coklat tampak menolehkan kepalanya seolah tengah mencari seseorang. "Maaf, apa anda benar Kak Siti penulis 'Cinta diatas Luka'?" Siti menganggukkan kepalanya dengan cepat dan wanita itu langsung berdiri dari kursinya.
9.3461.3K viewsCompletedAdded to Library 13.4K Times as where did the writer sit
Read
+Library
Satu Malam dengan Raja Naga

Satu Malam dengan Raja Naga

Lelaki yang datang siang tadi masih duduk di kursinya. Ia belum bicara, belum juga bergabung, tapi tidak pergi. Di hadapannya, sepotong papan kayu diletakkan, bersama arang untuk menulis. Tak ada yang menyuruhnya menulis. Tapi itu adalah bagian dari ruang ini: tempat bicara tanpa paksaan, dan tempat diam pun dihormati. Firen duduk tak jauh dari situ, bersandar pada tiang,
102.0K viewsCompletedAdded to Library 44 Times as where did the writer sit
Read
+Library
Jejak di Balik Pesantren

Jejak di Balik Pesantren

“Untuk setiap pembaca yang pernah merasa ditinggalkan oleh akhir yang tergesa.” Pena itu terangkat. Huruf-huruf bercahaya menggantung di udara, membentuk jembatan ke sebuah menara di kejauhan. Menara itu tak terlihat sebelumnya. Tapi ia selalu ada. Ia adalah pusat dari seluruh percabangan. Tempat semua cerita pernah bersilang. Tempat Penulis Sejati pernah duduk. Dan kini, menara itu menunggu bukan Penulis. Tapi Pendengar.
2.7K viewsCompletedAdded to Library 75 Times as where did the writer sit
Read
+Library
Vila Melati

Vila Melati

"Walah, Pak. Aku ora ngerti tentang literasi. Nulis satu halaman aja susahnya minta ampun." "Gitu, ya?" Dia tertawa meledek. "Gimana kalau kita minta bantuan seorang penulis?" "Penulis?" Aku menggaruk dagu yang tidak gatal. Sepertinya pernah berjumpa seorang penulis, tapi di mana? "Mbak Arini punya kenalan seorang penulis?" Pak Hektor bertanya penuh minat. "Aku pernah bertemu seorang penulis di gerbang istana laut selatan. Dia tidak diundang, tapi nekat bertandang demi mendapatkan materi kepenulisan."
102.5K viewsCompletedAdded to Library 83 Times as where did the writer sit
Read
+Library
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status