Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Fixing The Shattered

Fixing The Shattered

Anna membuka matanya, ia mendengar suara seorang pria dan seorang wanita bersahut-sahutan di bawah. Matanya yang berat itu ia paksakan untuk melihat ke arah jam dinding yang ada di seberangnya. Jam itu menunjukkan pukul 12 malam.
107.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 248 kali sebagai 12:22
Baca
+Pustaka
Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam

Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam

Hal pertama yang kulihat saat aku terbangun adalah langit-langit yang penuh noda air. Udara terasa pekat dengan bau disinfektan yang menusuk. Aku melirik jam di dinding. Enam jam lagi sebelum aku mati. "Clara? Clara, Sayang, kamu bisa dengar aku?" Sebuah suara, begitu akrab namun terasa jauh menarikku kembali dari kegelapan.
8.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 191 kali sebagai 12:22
Baca
+Pustaka
Istri Gila Pak Dokter

Istri Gila Pak Dokter

Eryas menoleh sekilas, menyadari gerakan kecil yang dilakukan Eira. Pandangannya kemudian jatuh pada jam dinding. Jarum panjang sudah melewati angka dua belas, menunjuk tepat pada angka sembilan. Malam terasa begitu sunyi, hanya suara detikan jam yang terdengar nyaring menusuk telinga.
1.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 26 kali sebagai 12:22
Baca
+Pustaka
Kau Menikah, Aku Mengikhlaskan

Kau Menikah, Aku Mengikhlaskan

ujar Adeline tenang sambil melangkah ke pintu dan menariknya. Begitu pintu terbuka, Leo tengah bersandar santai di ambang pintu. Pergelangan tangannya sedikit terangkat, menunduk melihat jam. Lalu dengan nada ringan ia berkata, “Dua belas menit lima puluh dua detik.”
9.2233.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 8.2K kali sebagai 12:22
Baca
+Pustaka
Living With You

Living With You

jawab Noah. "Baik, Tuan." Bip! Noah langsung mematikan sambungan teleponnya. Dengan kasar ia meletakkan ponselnya di atas meja lalu melirik jam di dinding dekat televisi ruangannya. Jam dua lewat lima belas menit.
1.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 31 kali sebagai 12:22
Baca
+Pustaka
Lie In Love (Dusta Dalam Cinta)

Lie In Love (Dusta Dalam Cinta)

Ia terlihat sangat canggung saat itu. "A-apa tidak terlalu malam?" Zidan mengangkat pergelangan tangan kirinya dan melihat ke arloji mewah yang ia kenakan. "Sekarang masih jam sepuluh malam." "Berarti ini sudah cukup malam!" tanggap Kia yang jantungnya saat ini berdegup sangat kencang. "Hmm ... aku rasa tidak terlalu. Bagaimana kalau kita melihat bintang?" tawar Zidan.
1010.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 384 kali sebagai 12:22
Baca
+Pustaka
Bilur Bulir Bertaut

Bilur Bulir Bertaut

Waktu terasa mengalir lambat, nyaman, seperti mobil itu terparkir di luar hitungan dunia. Di balik ketenangannya, Mareeq menghitung detik dengan sabar. Beberapa menit menjelang tengah malam, ia menurunkan volume musik. Suasana menjadi lebih hening, hanya tersisa desir angin di luar dan suara napas mereka yang seirama. Naomi menoleh, sedikit heran. “Kenapa dimatikan?” tanyanya. Mareeq tersenyum tipis, tatapannya jatuh pada jam di dashboard menunjukkan pukul 23:59. “Tunggu sebentar,” katanya pelan.
1.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 42 kali sebagai 12:22
Baca
+Pustaka
Dikira Pengangguran Ternyata Hartawan

Dikira Pengangguran Ternyata Hartawan

kilah Isha. “Ngomong-ngomong, sekarang jam berapa, Bang?” tanyanya mengalihkan pembicaraan karena merasa tak enak hati. Satrio melihat jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Jam setengah dua belas, Dek,” jawabnya dengan tenang.
1048.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.3K kali sebagai 12:22
Baca
+Pustaka
Perempuan Dari Bui

Perempuan Dari Bui

Tanda mendung masih sempurna menggantung. Padahal, hujan sore tadi begitu deras Rupanya belum semua ditumpahkan ke bumi. Sepertinya langit mendukung Gladis untuk menghukumnya. Tak lama, rintik kembali turun. Ghibran mengintip jam tangan. Pukul 22.00. Baru satu jam ternyata ia berdiri di situ. Ghibran mulai gelisah. Yang di dalam rumah juga gelisah. Rasa bersalah perlahan menyergap. Padahal memang bukan salahnya kalau laki-laki itu tetap keras kepala bertahan di teras.
705 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 18 kali sebagai 12:22
Baca
+Pustaka
Cruel Boy

Cruel Boy

"Hanya bertanya saja." Rafan terpaku sejenak. Setelahnya, kembali mendekatkan wajahnya ke leher Asya. Tujuannya, untuk mencari ketenangannya lagi. Sudut bibir Asya, kembali terangkat, dan tangannya terus mengelus lembut kepala Rafan. Lalu menatap aneh, saat Rafan mendongak lagi. "Apa?" "Jam berapa?" "Jam dua."
9.725.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 932 kali sebagai 12:22
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
34567
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status