Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Dendam Sang Tumbal

Dendam Sang Tumbal

sahut Rendra. Soleh menyikut lengan Rendra dan memintanya untuk jangan banyak bicara. Burung itu kini tampak berputar-putar di puing-puing reruntuhan rumah kayu, tampak beberapa benda di sana, termasuk sebuah patung yang mulai di tumbuhi lumut. Tampak ada bulir bening mengalir dari sela lumut itu, seolah sedang menangis. "Keluarkan patung Harimau itu dari reruntuhan ini,"
102.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 82 kali sebagai gedung rumentang siang
Baca
+Pustaka
Seuntai Janji

Seuntai Janji

53 Hari berganti menjadi minggu. Pagi menjelang siang itu, Dahayu baru tiba di butik utama, ketika pramuniaga menerangkan bila ada tamu di ruang tunggu lantai dua. Terdorong rasa penasaran, Dahayu bergegas menaiki tangga. Dia tertegun sesaat kala sampai di undakan teratas, dan melihat seorang pria berkemeja hitam yang sedang memandangi ponselnya.
102.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 111 kali sebagai gedung rumentang siang
Baca
+Pustaka
Dendam Permaisuri yang Terbuang

Dendam Permaisuri yang Terbuang

Nyi Gendeng Sukmo tiba-tiba terlihat melayang di udara. Rengganis menghela napas, "Tidak bisakah kau memberikan aba-aba sebelum muncul mendadak!" protes Rengganis. Hahahaha, Nyi Gendeng Sukmo hanya tertawa. *** Tepat tengah malam Rengganis terbangun dari tidur. Suara musik gamelan mengusik pendengaran, ciri khas dari Nyi Gendeng Sukmo jika hendak menjalani sebuah ritual. Pasti akan ada alunan gending jawi yang menggema. Wanita itu menghela napas panjang lalu bangkit dari kasur empuk yang baru saja dia tiduri. Rengganis mengernyit, menahan punggung dan tubuhnya masih terasa nyeri. Dia mengingat hal kemarin, akibat pertempuran panas bersama Khandra ditambah tubuhnya itu, entah Rengganis tidak
1025.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 904 kali sebagai gedung rumentang siang
Baca
+Pustaka
Tafsir Waktu

Tafsir Waktu

Angin malam menyerbak, membekukan hingga ke rongga-rongga tulang, seakan meneror penduduknya untuk tetap terjaga dalam realita, seakan meneror penduduknya takluk dalam mimpi-mimpi tiada akhir. Terlihat dari atas langit di balik awan. Melesat sebuah benda besar berbentuk seperti roket. Jatuh di sebuah gedung bertingkat. “Bruuuuuk....buuuk...buuuk....,” suara reruntuhan gedung.
1011.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 321 kali sebagai gedung rumentang siang
Baca
+Pustaka
Gadis Desa Itu Istri CEO

Gadis Desa Itu Istri CEO

Keesokan harinya Mentari baru saja naik, cahayanya lembut tapi cukup hangat untuk membangkitkan semangat siapa pun yang menyambutnya. Gedung tinggi PT James Cipta Mandiri tampak berkilau terkena sinar keemasan, seolah menjadi saksi langkah baru yang akan ia jalani hari ini. Laras datang lebih awal dari biasanya. Ia bahkan sempat berdiri sejenak di depan pintu masuk, menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar di dadanya.
674 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 26 kali sebagai gedung rumentang siang
Baca
+Pustaka
Perginya Istriku

Perginya Istriku

Dia lanjut membahas hal lain dan mereka terlihat lebih akrab dan mengobrol santai. Jam dinding berwarna merah ruang tengah menunjuk pukul delapan malam. Indri menatap benda bulat itu tak henti-henti. Sejak tadi, Rumi mencoba dihubungi tetapi tidak bisa. Hanya meninggalkan pesan manis berupa selamat menikmati hidup berdua.
1047.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.1K kali sebagai gedung rumentang siang
Baca
+Pustaka
Korban Perceraian

Korban Perceraian

Begitu juga dengan Ganesa, yang mengambil posisi berhadapan dengan Rumi, dengan meja tamu yang menjadi penyekat kedua nya. "Tante masih ingat saya?" tanya Rumi membuka obrolan. Ganesa menatap lekat wajah Rumi. "Maaf nih, Tante sedikit lupa, maaf ya," ungkap Ganesa, dengan tatapan tidak enak pada Rumi. Rumi tersenyum. "Nggak apa-apa, Tan. Wajar, kan sudah 2 minggu juga berlalu. Saya Rumi." Rumi menyodorkan tangan. "Yang ketemu Tante di Mall tempo hari, saat Tante kepisah sama Helena."
1016.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 558 kali sebagai gedung rumentang siang
Baca
+Pustaka
Pendekar Salah Zaman

Pendekar Salah Zaman

“LU MAU NAIK GUNUNG KAGAK BAWA BARANG?!” Rendi malah santai. “Lah ngapain ribet.” “Gue juga pendekar kali.” “Dingin mah tahan.” Rangga langsung nunjuk mukanya. “GOBLOK.” “Ini gunung.” “Bukan rooftop cafe.” Rendi ketawa. “Lebay lu.” Rangga makin emosi. “Lu tau gunung tuh apaan?” “Kalau hujan?” “Kalau longsor?”
10990 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 37 kali sebagai gedung rumentang siang
Baca
+Pustaka
Alesha : Langkahmu, Petunjukku

Alesha : Langkahmu, Petunjukku

Dinding kaca di sepanjang lorong menampilkan pemandangan kota—mobil kecil seperti semut di jalanan yang padat, gedung-gedung lain menjulang menembus awan tipis. ‘Kenapa sih gedung ini tinggi sekali,’ gerutunya dalam hati sambil menatap nomor lantai di dinding lift yang baru saja tertutup. ‘Baru sarapan sedikit aja, rasanya begitu sampai di atas langsung butuh makan siang. Kalau tiap hari begini bisa-bisa aku makan lima kali.’
777 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 19 kali sebagai gedung rumentang siang
Baca
+Pustaka
RINTIK YANG MENGGENANG

RINTIK YANG MENGGENANG

Dengan sentakan terakhir, Ganesha kembali memuntahkan cairannya di punggung mulus milik istrinya yang masih terlihat nyaman dengan tidurnya. Di rasa sudah cukup, Ganesha mencium puncak kepala Ganindira sebelum memejamkan matanya, mengabaika selimut untuk menutupi tubuh telanjang mereka berdua. ~!!!~ Pagi telah datang namun kota new York sedang di guyur hujan dengan sangat deras. Dua anak manusia yang polos tanpa sehelai benang tersebut terlihat kedinginan dan saling memeluk satu sama lain.
3.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 113 kali sebagai gedung rumentang siang
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status