Pembalasan untuk Sepupu Celamitan
Barang-barang banyak tertumpuk dan juga tergeletak di sana, segulung tikar berukuran besar, dua tumpuk kasur kapas zaman dulu, kotak mesin cuci, bahkan alat-alat motor dan kunci-kunci baut berserak di sana.
“Ra, lihat! Di sini kamu tidur? Itu enggak mungkin. Enggak mungkin juga kamu tidur sama Latif, sedangkan dia sudah besar,” ucapku sambil mencolek sebuah speaker berukuran besar, butiran debu melekat di jari telunjuk dan kuusap dengan ibu jari.
“Enggak apa-apa, Mbak, besok bisa aku bersihkan,” sahutnya sambil menatap sebuah kursi tua, tempat duduk almarhum ibu suamiku yang sempat kami bawa dari kampung.
Hot Chapters