Bukan Menantu Impian
Itu lebih baik bukan, di rumah kakakku anak-anak lebih dianggap dan mereka bisa bermain sepuasnya tanpa takut disalahkan.
Dadaku berdebar kencang, saat memasuki halaman istana mertuaku ini. Bagaimana tidak sudah seminggu aku tak menginjakkan kaki di rumah ini, tepatnya semenjak hari raya pertama kemarin, setelah kejadian tablet pecah itu. Aku enggan kemari begitu juga dengan Bang Rozi, biasanya hari raya begini waktunya kumpul keluarga, apalagi ada keluarga yang sedang mudik. Pasti sangat asyik untuk menghabiskan waktu bersama. Tapi tidak dengan kami, kami lebih nyaman di gubug kami sendiri.
"Ayo, Dek," Bang Rozi menarik tanganku. Karena dari tadi aku mematung di depan pintu.
Hot Chapters