Menikahi CEO, Penyesalanku
“Ambillah. Pemilik tempat ini yang membuatnya. Dia pernah bilang pada aku, kalau aku melihat seseorang menunggu di depan pintunya saat hujan, aku harus memberikan ini.”
Tangan Arif gemetar ketika menerima payung itu.
Pegangannya terbuat dari kayu zaitun yang dipoles halus. Di sana, terukir dengan tulisan tangan aku, satu baris teks.
[Badai selalu akan berlalu. Tetap bahagia di jalur kamu sendiri.]
Dua kalimat yang sederhana itu menyambar Arif seperti petir, menghancurkan sisa-sisa khayalan terakhirnya.