Istana Yang Ternoda
“Kamu benar-benar luar biasa, Nak.”
Kania tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya menarik Narendra ke pelukannya, mendekap anak laki-lakinya dengan erat seolah tak ingin melepas.
“Kamu tahu,” bisik Kania dalam pelukannya, “Mama sudah pernah kehilangan banyak. Tapi, kamu adalah kekuatanku. Terima kasih, Nak.”
Narendra mengangguk dalam pelukan itu. Ia tahu, lukisan itu bukan sekadar karya seni. Itu adalah bentuk cinta, penghormatan, dan janji diam-diam bahwa ia akan selalu kembali—untuk mereka.
Hot Chapters