Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Dear You

Dear You

Gue butuh café yang hangat dan tentu saja menyediakan kopi yang enak, dan akhirnya setelah sedikit berdebat tentang lokasi, kami memilih sebuah café yang bernama ‘Harmony’ dan lokasinya tak begitu jauh dari rumah Tania. Meskipun malam hari, café ini juga tidak bisa dikatakan sepi. Masih ada beberapa pelanggan yang tampak nyaman menikmati kopi mereka. Coffe shop bernuansa ethnic ini terasa nyaman dan tentu saja hangat karena sofa bulu yang sekarang gue dan Tania duduki ini benar-benar lembut dan membuat betah. “Lo pinter pilih tempat ya?” komentar gue sambil mengaduk-aduk espresso yang ada di depan gue.
3.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 120 kali sebagai nota cafe
Baca
+Pustaka
Let's Play With Me

Let's Play With Me

Beatrice yang menyadari ada cafe, langsung menepi ke bahu jalan tepat di depan cafe itu. "Biar aku saja yang turun," kata Cora mencegah Ny. Beatrice yang hendak turun dari mobilnya. “Kau mau kopi juga?” "Americano Ice saja." "Baiklah.” Cora langsung turun dari mobil dan masuk ke cafe. “Hai, Cora! Kau kembali rupanya. Mau coba capuchino?” sapa barista, sekaligus menawarkan menu favorit di cafe ini.
107.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 233 kali sebagai nota cafe
Baca
+Pustaka
Me After You

Me After You

“Nah sambil menunggu ponselmu dan juga anakmu, bagaimana kalau kita ke Kafe sekarang?” Setelah Belinda mengangguk setuju, mereka pun jalan beriringan ke arah kafe dan telah berdiri di depan counternbya untuk memesan minuman mereka, “Kamu dulu." Victorino mempersilahkan Belinda untuk menyebutkan pesanannya terlebih dahulu, “Café au Lait, jangan lupa tambahkan susu hangat ke dalamnya.” “Baik dan anda Tuan?” tanya Baristanya pada Victorino.
109.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 376 kali sebagai nota cafe
Baca
+Pustaka
Mendapatkan Hati Suamiku

Mendapatkan Hati Suamiku

tanya salah satu barista. “Oh ini Kak, saya mau nanya. Pernah nggak ada pelanggan di sini yang namanya Malik atau Anita?” “Malik? Anita?” Barista itu mengulangi perkataan Yudha. “Iya.” “Pak Malik adalah owner cafe ini Kak, dan Nyonya Anita adalah istrinya,” jawab barista itu. “Oh benarkah? Jadi ini cafe milik Malik?” Barista itu mengangguk. “Kalau begitu bisakah aku meminta nomor Malik ada urusan penting yang harus aku sampaikan,” pinta Yudha.
101.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 44 kali sebagai nota cafe
Baca
+Pustaka
Istri Kontrak Mantan Kakak Ipar

Istri Kontrak Mantan Kakak Ipar

Namun betapa kecewanya Jacob ketika sampai toko itu malah sudah berubah menjadi sebuah cafe. Tak ada cat warna warni seperti yang ada dalam benak Jacob, tak ada patung2 lucu berbentuk lolipop dan kuda poni. Kafe ini terlihat modern dengan gaya industrial yang bernuansa abu-abu dan hitam. “Wah sepertinya tempatnya keren!” ujar Naftalie tiba-tiba yang segera memecah lamunan Jacob akan restoran kenangan bersama dengan mamanya.
1015.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 615 kali sebagai nota cafe
Baca
+Pustaka
The Huntress Trilogy #1 Daughters of Lucifer

The Huntress Trilogy #1 Daughters of Lucifer

Sebagai anak buah mendiang Jethro, Elba cukup dikenal sebagai salah satu yang terbaik. Kini setelah menunggu seminggu lebih, Elba memberanikan diri untuk menemui Nina. Kafe ini adalah tempat Nina setiap hari membeli kopi untuk menikmati udara sore yang cukup bersahabat walau mulai dingin. Selain menghadap ke arah pelabuhan, kafe ini juga memiliki akses pemandangan yang indah untuk melihat menara Eiffel yang legendaris. Cangkir kopinya mengebul dan menguarkan aroma khas kopi robusta yang harum dan pekat. Elba menggosokkan kedua telapaknya untuk mengurangi dingin yang menggigit.
9.733.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 795 kali sebagai nota cafe
Baca
+Pustaka
Suami Wasiat Kakek

Suami Wasiat Kakek

Cafe lencana ungu ini memang tempat favorit bagi Katarina, sampai tempat duduknya berulang kali tetap di sudut pojok. “Kak matchalatte satu,” pesan Katarina pada seorang wanita yang ada di kasir. “Matcha mulu, sesekali beli kopi, Kak!” ujar Elegi pelan. “Aku tidak mengopi, kamu saja yang pesan kopi kaya orang tua saja!” ledek Katarina terkekeh. “Dih, gak gitu juga, Kak. Oiya, mbak aku pesan cappuccino saja satu ya,” pesan Elegi.
108.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 223 kali sebagai nota cafe
Baca
+Pustaka
My Mafia

My Mafia

Dan uang tabungannya itu jelas tidak sedikit. Hei, Caesaria tidak akan menjadi orang miskin di negara ini. *** One Fifteenth coffee. Itu adalah nama cafe yang Caesar tujui. Tempatnya sangat cocok untuk duduk sejenak sambil minum segelas kopi panas. Caesar masuk ke dalam cafe lalu duduk di meja yang berada di pojok. Setelah itu, datang seorang pelayan membawa buku dan pena untuk mencatat pesanan. Caesar membaca semua menu dalam buku lalu mengatakan pesanannya, "Hot Cappucino dan scrambled eggs. "
104.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 131 kali sebagai nota cafe
Baca
+Pustaka
Bertahan Dalam Asa Hampa

Bertahan Dalam Asa Hampa

Merapikan hijabnya sebentar, Nissa beranjak mendekat pada Naira yang tersenyum riang menyambutnya. "Hallo, Mbak Nissa, apa kabar?" sapa sang pembawa acara. "Alhamdulilah, baik," sambut Nissa. "Jadi, sesuai yang di ceritakan Mbak Naira barusan. Nama cafe ini diambil dari huruf depan para owner, ya?" Nissa hanya mengangguk mengaminkan. "Nah, ini kan nama cafenya N'3. Berarti ada tiga orang harusnya. Mbak Naira, Mbak Nissa, dan ... satu lagi kalau boleh tahu siapa? Kalau orangnya ada, boleh di panggil juga."
1017.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 626 kali sebagai nota cafe
Baca
+Pustaka
Halte Cafe

Halte Cafe

Hingga membuat seorang pria mendongakkan kepala ke arah pintu masuk. "Selamat siang. Selamat datang di Halte Cafe," sambut Yuya sang Owner cafe. Mata pria itu sedikit menyipit tatkala melihat warna kelabu berpendar keluar dari tubuh Elea. Wanita dengan rambut diikat ke atas itu pun melangkah semakin jauh ke dalam cafe. Manik matanya berpendar ke seluruh ruangan. Dilihatnya, bahwa dindingnya berlapis batu bata cokelat. Tidak ada lampu yang digantung pada langit-langit. Melainkan sebuah tiang lampu minyak seperti London di zaman Jack The Ripper yang menyebar ke segala tempat.
2.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 59 kali sebagai nota cafe
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
9
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status