Terbelahnya Rindu
Cat putihnya mulai memudar, dan atapnya sedikit miring, tetapi ada semangat yang memancar dari tempat itu.
Dimas berjalan masuk, melihat barisan kursi kecil, papan tulis yang dipenuhi coretan kapur, dan anak-anak yang menoleh dengan mata penuh rasa ingin tahu.
Senyum malu-malu mereka mengingatkannya pada masa-masa saat ia pertama kali mengajar di sini, di mana tawa riang mereka adalah hadiah terbesar di akhir hari. “Anak-anak, kenalkan, ini Pak Dimas, dia akan membantu kita lagi!” seru Pak Hasan, membuat beberapa anak kecil bersorak gembira.
Hot Chapters