Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
menjadi yang kedua

menjadi yang kedua

Lesung pipi nya yang tercetak jelas, membuat nya nampak sangat cantik. nur yang tersenyum dengan kitab yang di tangan nya, seolah perpaduan kecantikan santriwati yang sempurna. Beberapa santriwati mulai menatap dengan seksama, melihat gerak bibir salah satu ustadzah mereka juga. "Arti dari bait ini sendiri adalah # 'Dalam kondisi tidak terpaksa, tidak perlu mendatangkan dhomir munfasil. (Terpisah)
2.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 60 kali sebagai puisi santri
Baca
+Pustaka
Sang Ksatria Malam

Sang Ksatria Malam

Dengan diamnya dan dengan kerapian setiap rencana yang disusun oleh padepokan Bayangan Singa, sungguh sulit untuk menemukan keadaan asli kalian di sana. Oleh karena itu, sebagai sebuah kenang-kenangan sekaligus sebagai petunjuk wasiat yang bisa guru berikan pada kalian adalah syair puisi di bawah ini. Syair ini bukanlah syair biasa, di dalamnya terkandung makna pesan sebenarnya yang ingin guru sampaikan. Guru akan menyerahkan sepenuhnya bagaimana penerjemahan syair ini pada Bajulgeni, karena guru yakin Bajulgeni telah menguasai ilmu sastra dan paham bagaimana tutur kata dari guru sendiri. Berikut adalah untaian syair yang harus kalian terjemahkan.
102.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 71 kali sebagai puisi santri
Baca
+Pustaka
Wanita Penjaja Cinta

Wanita Penjaja Cinta

Harapku dalam hati. Aku disambut hangat santri-santrinya Mbah Putri, mereka antusias menyambut kedatanganku. Beberapa di antaranya ada yang kukenal, karena sudah lama mondok di sini. Tapi banyak santri yang belum kukenal sama sekali. "Ning Mey ini ternyata cantik sekali, ya?" Puji salah satu santri saat bersalaman denganku. *Ning = sebutan untuk anak perempuan Kiyai.
106.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 214 kali sebagai puisi santri
Baca
+Pustaka
Sang Penabur Benih

Sang Penabur Benih

Bagaimana bisa anak sekecil itu bertanya hal demikian? "T...tidak. Mommi mu adalah wanita hebat dan kuat." "Aku tidak mau nakal biar mommi tidak sedih. Kalau mommi sedih tolong hibur dia. Uncle mau berjanji?" Diego mengulurkan kelingkingnya. Raleigh mengikatkan kelingking mereka dengan ragu-ragu. "Jangan ingkari janji uncle. Aku berjanji akan jadi anak yang baik dan rajin sekolah agar bisa tinggal serumah lagi dengan mommi."
7.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 146 kali sebagai puisi santri
Baca
+Pustaka
Menantu Terbuang Kini Hidup di Puncak Dunia

Menantu Terbuang Kini Hidup di Puncak Dunia

Lalu ia menarik napas panjang, meletakkan tangannya di dada, dan mulai mendeklamasikan: > “Kamu seperti nasi hangat Di pagi yang belum sempat Aku lapar, kamu kenyang Hatiku tenang, dompetku senang.” Tari mengerjap, lalu menutup mulutnya sendiri. Tapi ia tak bisa menahan lebih lama. Tawanya pecah begitu saja. “Apa itu?” katanya di antara tawa. “Apa-apaan itu?” Radit tersenyum bangga. “Itu puisi. Judulnya Sarapan Perasaan. Masih ada bait kedua kalau kamu kuat.”
1011.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 374 kali sebagai puisi santri
Baca
+Pustaka
Istri yang Kau Anggap Bodoh

Istri yang Kau Anggap Bodoh

"Nggak ada salahnya kalau dia merasa nyaman di rumah kita." Sukma hanya mendengus kesal, memilih diam agar tidak memperkeruh suasana pagi itu. Namun, di dalam hatinya, dia semakin muak dengan kelakuan Rani dan sikap Yudi yang selalu membelanya. Setelah selesai sarapan, Sukma membersihkan rumah seperti biasa. Tapi hatinya sedikit terhibur ketika melihat pesanannya di aplikasi dagangnya semakin banyak. Dia merasa bangga karena usahanya semakin berkembang, tabungannya pun semakim gendut. Namun, ketenangannya tidak berlangsung lama. Dari ruang tamu terdengar suara tangisan anak-anak Rani. Terutama suara Toni, anak sulung Rani, merengek minta jajan.
107.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 182 kali sebagai puisi santri
Baca
+Pustaka
Hidup Kembali di Zaman Kuno

Hidup Kembali di Zaman Kuno

Aula belajar penuh dengan suara-suara membaca, gemerisik lembaran kitab, dan aroma tinta yang melekat di udara. Di pojok ruangan, duduk Bagas dan Santri, dua pemuda dari Kali Bening. Mereka mengeluh pelan. Bagas: "Kitab hukum ini... seperti membaca batu! Tak masuk ke kepala." Santri: "Andai saja kita bisa seperti Tuan Raka. Ia bahkan tak pernah menginjakkan kaki di sekolah, tapi bisa mengutip isi kitab dengan lisan yang seolah turun dari langit."
1012.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 336 kali sebagai puisi santri
Baca
+Pustaka
Bukan Sebab Cinta Ditolak

Bukan Sebab Cinta Ditolak

Datangkan si jundai(hantu) biar dia gila, siang dan malam mencariku. Tiga mantra di atas dikutip dari syair lagu “Gasiang Tangkurak” yang berasal dari Sumatera Barat.
1.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 49 kali sebagai puisi santri
Baca
+Pustaka
SANG PENGGODA

SANG PENGGODA

Hingga membuat Yura begitu penasaran dan mendatangi langsung, apa sebenarnya yang sedang dilakukan Reyhan di dalam sana. "Aku sedang memutar murottal Quran untuk membantuku memperbaiki ilmu tajwidku. Maaf kalau kamu merasa terganggu, nanti biar aku kecilkan volumenya," Itulah kalimat jawaban dari mulut laki-laki bernama Reyhan itu. Baik Reyhan maupun Katrina sungguh kompak dalam hal agama. Apa mungkin karena alasan itu, Reyhan menjelma menjadi sosok laki-laki setia yang sulit untuk ditaklukan?
1018.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 509 kali sebagai puisi santri
Baca
+Pustaka
Rasa

Rasa

Ceramah yang cukup menyentuh hati itu, kemudian diakhiri dengan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh Abian. "Maa Sya Allah, suaranya." "Luar biasa suaranya" "Lantang dan sangat menyentuh." Pujian dari beberapa tamu yang kagum akan suara emas dari seorang santri yang duduk di sebuah kursi dengan jubah putih dan kopiah di kepalanya.
104.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 133 kali sebagai puisi santri
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
45678
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status