Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Sistem Yang Memberiku Keadilan

Sistem Yang Memberiku Keadilan

Wanita di sebelahku tertidur dengan penyuara jemala terpasang. Aku menempelkan dahi ke jendela yang dingin dan menyaksikan cakrawala yang terbuka luas. Apa pun yang akan terjadi selanjutnya, itu akan menjadi milikku. Tidak ada lagi Sistem yang menegakkan keadilan. Tidak ada lagi keluarga yang menuntut rasa terima kasih. Tidak ada lagi utang kepada orang-orang yang tidak pernah membayar utang mereka.
2.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 98 kali sebagai puisi tema keadilan
Baca
+Pustaka
Asmodeus, Si Pembunuh Berantai

Asmodeus, Si Pembunuh Berantai

Claudia membuka lalu membacanya perlahan. "Keadilan harus di tegakkan dengan sendirinya. Ketika Keadilan itu telah di manipulasi oleh keserakahan para penguasa. Maka penghukuman yang adil adalah dengan memanipulasi penegak hukum menggunakan penegak hukum itu sendiri. Asmodeus, The Godslayer" "Memanipulasi penegak hukum menggunakan penegak hukum itu sendiri?" Gumam Claudia.
103.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 67 kali sebagai puisi tema keadilan
Baca
+Pustaka
Demi Anak Suamiku, Kurela Jadi yang Kedua

Demi Anak Suamiku, Kurela Jadi yang Kedua

PUISI SATIR TENTANG YANG LUKA DIA TERBANG TAPI TAK PUNYA SAYAP KARENA DEMIKIAN SEKARANG IA SUDAH MERAYAP SAYANGNYA IA TIDAK MERAYAP SESUAI TEMPAT SEHINGGA DEDAUNANNYA ITU JATUH TERLEBIH DAHULU SEBELUM DIRAPAT JIKA DEDAUNANNYA SUDAH RUNTUH APALAH DAYA SEBUAH BUAH YANG TIDAK MEMPUNYAI ALAT FOTOSINTESIS SEBAGAI RUMAH YANG MEMBERINYA BUTUH TENTU BUAH ITU TAK JADI SEGAR TENTU BUNGA ITU TAK JADI MEKAR MEMANG SEBUAH KEJAHATAN TIDAK AKAN LARI DARI PENANGKAPAN MEMANG YANG BAIK ITU AKAN SELALU MENDAPATKAN CELAH KEMENANGAN
103.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 95 kali sebagai puisi tema keadilan
Baca
+Pustaka
Terbukanya Gerbang Keadilan

Terbukanya Gerbang Keadilan

ucap Utsman. "Aku lebih baik mati, daripada harus menyerahkan diri." Kaisar Andreas mulai mengacungkan pedangnya ke langit.
103.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 98 kali sebagai puisi tema keadilan
Baca
+Pustaka
PELITA DI TENGAH GELAP

PELITA DI TENGAH GELAP

Cahaya kecilnya memantul di dinding, menari lembut bersama bayangan daun di luar jendela ia menatapnya lama, lalu mengambil buku hariannya dan menulis satu halaman terakhir, “Kami sudah melewati hujan, badai, dan malam yang panjang. Tapi dari semua itu, aku belajar satu hal, pelita yang paling kuat bukan yang paling terang, melainkan yang tetap menyala bahkan ketika angin mencoba memadamkannya. Dion aku janji, pelita ini akan terus ada. Untukku, untuk Dinda, dan untuk siapa pun yang percaya bahwa kejujuran masih punya tempat di dunia.”
825 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 33 kali sebagai puisi tema keadilan
Baca
+Pustaka
Andai Sinar itu Tak Pernah Ada

Andai Sinar itu Tak Pernah Ada

Mulutnya komat-kamit mengejek, "Kak, nanti jangan sampai berlutut mohon-mohon pinjam duit ke aku ya." Aku tersenyum tipis tanpa berkata-kata. Lalu berbalik dan berjalan menembus hujan. Aku mengerutkan leher, merasa hawa dingin menusuk sampai ke sela-sela tulang. Sebenarnya pergi ke mana pun sama saja. Aku hanya ingin mencari tempat yang tenang untuk menghabiskan sisa waktuku. Tidak perlu lagi mendengar suara gedoran pintu dari para penagih utang si pejudi itu.
7.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 188 kali sebagai puisi tema keadilan
Baca
+Pustaka
Kembali ke  1980 Dari Nol Membangun Segalanya

Kembali ke 1980 Dari Nol Membangun Segalanya

“Aku menyuruh kalian memperjuangkan keadilan.” Pak Rasim mengangkat buku catatannya sedikit lebih tinggi. “Keadilan tidak membeli beras untuk rumahku. Keadilan tidak memperbaiki roda gerobakku. Keadilan tidak mengajari anakku cara menjaga api supaya mie tidak lembek.” Ia lalu menunjuk gerobaknya yang diparkir tidak jauh dari tanah lapang. Papan nama di atasnya terlihat jelas.
1010.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 385 kali sebagai puisi tema keadilan
Baca
+Pustaka
Antara Janji dan Pengkhianatan

Antara Janji dan Pengkhianatan

Emosi di matanya terus berubah-ubah, dari tidak percaya … menjadi berkecil hati … dan akhirnya tenggelam dalam keputusasaan. "Dinda, dari awal sampai akhir, aku cuma mencintaimu. Aku nggak mengkhianatimu! Masalah ini pada akhirnya juga demi kebaikanmu. Bisakah kamu dengarkan dulu penjelasanku …." Aku tertawa, air mata mengalir dari sudut mataku. "Kamu bilang apa? Nggak mengkhianati?" "Ivan, bagimu, selama itu cuma pengkhianatan fisik, maka nggak dianggap berkhianat, begitu?"
1.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 34 kali sebagai puisi tema keadilan
Baca
+Pustaka
Antara Cinta dan Keyakinan

Antara Cinta dan Keyakinan

Setiap hari, setiap hari aku memperhatikannya. Melihatnya mengepalkan tangan, urat-uratnya menonjol, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Melihatnya meringkuk di sudut, menangis dalam diam. Melihatnya berjuang menahan rasa sakit dan akhirnya tenggelam dalam keputusasaan. Inilah yang ingin kulihat. Akhirnya, Jason kembali mengenakan manik-manik Buddha dan membaca kitab suci di hadapan Buddha setiap hari.
5.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 169 kali sebagai puisi tema keadilan
Baca
+Pustaka
PENDEKAR MACAN TUTUL

PENDEKAR MACAN TUTUL

Hmm, berarti . “Maaf, Ki. Sepertinya Ki Raksa sedang memikirkan sesuatu?” Ki Raksa dibuat kaget oleh pertanyaan Sandaka. “Oh, tak memikirkan apa-apa, Ngger,” sahutnya sambil tersenyum. “A ... begini saja. Demi keamanan dan keselamatan Angger sendiri, sebaiknya Angger Sandaka tinggal bersamaku di lembah yang sepi ini. Biarkan dulu orang-orang yang telah berbuat biadab terhadap Angger menganggap jika Angger telah tewas, sampai suatu saat Angger kembali untuk menuntut keadilan. Aku akan mendidik dan menggembleng Angger di sini sehingga Angger kelak menjadi seorang pendekar sejati. Aku bersumpah untuk menurunkan semua ilmu yang kumiliki. Yah, Angger harus menjadi pewarisku! Keangkaramurkaan da
8.97.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 142 kali sebagai puisi tema keadilan
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status