Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
RINDU MENJANDA

RINDU MENJANDA

Aku memberikan itu, agar Bu Rindu tak melupakanku seiring berjalannya waktu. Suatu saat aku akan datang menemui Bu Rindu. Entah itu cepat atau lambat, setelah waktunya tepat nanti. Sudah dulu ya, Bu. Suratnya cukup sampai disini. Ada pantun lagi nih sebagai penutup. Empat kali empat sama dengan enam belas. Sempat nggak sempat nggak usah di balas. Heheheh. Salam dari lelaki yang mengagumimu.
103.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 80 kali sebagai puisi w.s rendra
Baca
+Pustaka
Man of Love

Man of Love

Lita membelalakkan matanya mendengar kalimat Rendra “Aku lihat kamu, kenapa penasaran? Mau coba?” “Percaya diri sekali dan kaya nggak ada tempat aja.” Lita berkata sarkas. “Bagaimana tidak percaya diri karena kamu beberapa kali berhenti dan melihat apa yang aku lakukan, kemarin kamu bersama teman dan beberapa kali menarik agar tidak melihatnya. Jadi apa salah percaya diri? Apa yang kamu lakukan terlihat sangat jelas dan satu lagi kita di Bali pastinya lebih bebas melakukan sesuatu ditambah tempat ini sangat jauh dari keramaian,” jawab Rendra dengan secara detail.
2.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 66 kali sebagai puisi w.s rendra
Baca
+Pustaka
Satu Malam Panas Dengan Adik Iparku

Satu Malam Panas Dengan Adik Iparku

"Rendra." ___
102.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 64 kali sebagai puisi w.s rendra
Baca
+Pustaka
Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang

Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang

"Semua itu nggak akan pernah bisa kamu berikan." Rangga terhuyung mundur beberapa langkah, seolah-olah seluruh kekuatannya baru saja direnggut paksa dari tubuhnya. Binar cahaya di matanya perlahan-lahan meredup, lalu padam. "Lintang," gumamnya lirih. "Hubungan kita selama bertahun-tahun ini, apa kamu benar-benar nggak merindukannya sedikit pun?"
2.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 47 kali sebagai puisi w.s rendra
Baca
+Pustaka
Cinta Sang Preman

Cinta Sang Preman

*** Rasa Aku berkelana melewati rimba aksara, menembus lebatnya kata Aku berenang dalam kubangan gelap dan terangnya pikiran Mencari rasa yang sepat singgah pada manik jiwa Terbang mengikut angin berhembus sampai akhirnya leyap pada batas nyata Luka hanyalah setitik duka yang tersirat dalam kisah semesta Aku pun pergi pada cinta, kuiklaskan diri dalam rengkuhnya Cumbuannya membangkitkan gelora hasrat jiwa, hadirkan selaksa bahagia ** Jadi lagi satu puisi, coba up lagi di medsos. Siap dikritik, daripada harus diam menunggu kabar dari manusia yang mulai menghilang dari peredarannya. [Ta,] Kenzo mengirim pesan [Uyy, dapa, Ken?] [Sibuk 'gak?] [Gak, kenapa?]
104.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 118 kali sebagai puisi w.s rendra
Baca
+Pustaka
Pelukan Hangat Tuan Presiden

Pelukan Hangat Tuan Presiden

"Aku rasa isinya paling asli, belum banyak dicampuri oleh pendapat-pendapat sejarawan modern yang seringkali mencoba merasionalisasi segala hal." Rendra menjeda kalimatnya. "Awalnya aku berniat membacanya untuk mencari jawaban. Tapi semakin jauh aku membalik halamannya, aku merasa semakin tidak ada gunanya. Semuanya terasa seperti labirin tanpa ujung." Sera mendongak, menatap dahi Rendra yang nampak berkerut. "Kenapa Anda bilang begitu?" Rendra mengedikkan bahu sekilas, ekspresinya nampak sedikit sinis namun letih. "Coba saja kamu baca sendiri. Mungkin matamu akan melihat sesuatu yang luput dari pandanganku."
1031.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 758 kali sebagai puisi w.s rendra
Baca
+Pustaka
Sang Kakak Buat Aku Tergila

Sang Kakak Buat Aku Tergila

Tulisannya sama dengan surat-surat cinta yang ditemukan di kamar ibunya Arjuna. "Kamu menggeledah barang-barang Mama?" "Tidak, aku menemukan. Aku tidak menyangka Mama tega membunuh seseorang," kata Rendra dengan tenang namun matanya merah menahan cairan bening itu. "Kali ini gak akan aku biarkan Mama membunuh siapapun lagi. CUKUP MA! "RENDRA!" Awalnya Wulan sedih dan menangis tapi detik berikutnya Wulan tertawa, tawa yang begitu keras. "Setelah semua yang aku lakukan untukmu! Memberikanmu kehidupan yang baik! Menjadikanmu pewaris Mahendra."
1.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 26 kali sebagai puisi w.s rendra
Baca
+Pustaka
Dendam Sang Tumbal

Dendam Sang Tumbal

Bola api Soleh mulai menyerang Jenggala Manik, iblis itu berteriak dan dari telapak tangannya mengeluarkan banyak pisau tajam. Rendra terperangah dan menatap takut karena hujan pisau yang mengarah kepadanya. “Hei bocah, gunakan kekuatanmu. Aku membawamu bukan untuk bengong!” bentak Wunisa. Perisai di dada Rendra mengeluarkan sinar dan kini tubuh lelaki itu mulai membesar, cahaya dari kembang Wijaya menangkis semua pisau yang akan menghujaninya.
102.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 73 kali sebagai puisi w.s rendra
Baca
+Pustaka
Bangkitnya Menantu yang Dianggap Parasit

Bangkitnya Menantu yang Dianggap Parasit

gertak Rendra “Aku tidak menghancurkan Bu Ambar ataupun dirimu, Mas Rendra, aku hanya mengambil apa yang menjadi hak ku, yaitu RSC, Mery Gold dan rumah mewah yang kamu tempati selama 20 tahun ini, semuanya itu adalah milikku,”suara Maya terdengar tegas “Aku tahu, Maya, tapi 20 tahun ini, Aji Darmawan dan aku yang membuat RSC besar dan berjaya,”sarkas Rendra
6.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 234 kali sebagai puisi w.s rendra
Baca
+Pustaka
Bukan Siti Nurbaya

Bukan Siti Nurbaya

Lama lama dongkol juga ini hati. "Nggak usah urusin mereka. Yang jelas aku nggak sedang tebar pesona. Tapi, aku ingin semua orang tahu, kalau aku sedang sangat bahagia." Terang Rendra. Ia berdiri tepat di hadapanku, dengan tangan kananku yang masih terus ia genggam erat sejak tadi.
1.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 54 kali sebagai puisi w.s rendra
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status