Selir Yang Terlupakan
Ia tak segera mengembalikannya, melainkan memegangnya erat di telapak tangan, jari telunjuknya mengusap tepi sampul yang sudah agak usang.
"Berbeda," ulangnya pelan. Sesuatu yang samar—bukan senyum, melainkan kilatan kelembutan di sudut bibirnya—lewat sekejap sebelum hilang. "Di tempat seperti ini, menjadi berbeda bisa berarti berbahaya."
Akhirnya ia menyodorkan buku itu kembali, jari-jarinya menyentuh tanganku lebih lama dari yang diperlukan.