Pesan Nyasar Dari Sahabatku
Nyatanya, kumat lagi menjelang usianya yang hampir kepala empat tersebut.
“Semoga … dia bisa berubah, Ri.”
Aku mengangguk. Merasa lega sebab Mbak Sherly akhirnya tak ngotot minta antar pulang. Sebingkai lukis senyum pun kuulas kepadanya.
“Amin. Aku yakin, dia itu hanya main-main pada Desi, Mbak. Mbak Sherly mulai sekarang harus dandan dan berpenampilan kece. Jangan mau kalah sama si gundik. Satu lagi, jangan mau menyerahkan segala kesuksesan kalian padanya. Kalau Mbak pergi sekarang, dialah yang jadi pemenang. Aku tidak sudi punya ipar pelakor seperti Desi.”