Rasa Dari Keremajaan
Suara bisikan Clarissa di tangga tadi sore masih terngiang, bersaing dengan suara detak jarum jam dinding.
Aku menarik napas panjang, lalu mulai mengetik. Bukan dengan bahasa birokrasi yang kaku, tapi dengan bahasa yang ada di kepalaku. Bahasa kejujuran yang menyakitkan.
Keesokan paginya, sekolah gempar.
Penyebabnya bukan tawuran atau razia mendadak, melainkan poster-poster kampanye yang ditempel di mading utama.