Diantar Ke Rumahku
“Terus kami pergi ke tukang jahit. Sampai di sana, tukang jahitnya enggak ada, yang ada cuma anaknya yang masih SD kelas 3. Katanya dia lagi pergi ke hajatan. Bahannya enggak mungkin dititip, karena ada uangnya juga 2 juta, mesti minta kuitansi. Terus mesti menyampaikan pesan juga ke tukang jahitnya, bahwa yang warna ini dan itu, minta diselesaikan lebih dulu, soalnya orangnya mau pakai ke pesta hari Minggu depan… Ngeselin banget, pokoknya.”
“Memang kamu enggak telepon tukang jahitnya?” tanya Mama.
“Teleponlah, Ma. Tapi namanya dia lagi di hajatan yang ada dangdutan-nya, teleponnya lama baru diangkat. Pas diangkat, setelah kami nunggu 20 menitan kayaknya. Akhirnya dia sampai setengah jam set
Hot Chapters