Bara Dendam Sagara
Tapi kini ia tak lagi liar; amarah itu dimurnikan menjadi titik fokus, menjadi energi yang terukur dan berarah.
Bayangan bergeser lagi. Kali ini yang muncul adalah Sagara sendiri, berdiri di puncak gunung terpencil. Jubah hitam sederhana menutup tubuhnya, namun ada aura yang tak bisa disembunyikan: tombak legendaris tergenggam erat di tangannya, rambutnya terurai seperti gulungan ombak yang nyaris lepas. Pandangannya tajam, penuh tekad. Di bawah langit yang gelap diselingi kilatan petir, lautan pendekar bertempur — ribuan tubuh, suara logam bertumbukan, dan aroma debu serta darah yang melekat.
Bab Populer