DENDAM
"Mungkin dia juga terluka, atas musibah yang menimpa Alena. Apalagi kini kondisi Ibu Mumun tidak stabil."
"Bisa jadi, anak itu begitu datar dan penuh misteri." Lagi-lagi Papah terlihat begitu serius, mengamati ekspresi wajah Alia.
"Raka, ini kamu kasih Alia, mana tau dia haus dan lapar pagi nanti."
Kulirik jam tangan, ternyata sudah pukul tiga dini hari. Benar-benar full tidak ada istirahatnya sama sekali, bahkan Amira pun sepertinya begitu antusias menekanku.