Wiro sang Penakluk
Kemuning ikut menggerakkan pinggulnya ke belakang, menyambut setiap dorongan dengan goyangan kecil yang selaras—seperti gelombang kecil di bawah hujan hangat.
Tangannya naik ke dada Kemuning, meremas lembut di bawah guyuran air, jempol mengelus puting yang mengeras karena kehangatan dan sentuhan. Kemuning mendesah lebih sering sekarang, suaranya tertahan di tenggorokan, bercampur dengan deru air.
“Wi… enak banget… airnya bikin semuanya lebih… lembut…” gumam Kemuning, kepalanya terdongak sedikit menyambut air yang mengguyur wajahnya.