Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Dipaksa Menikah dengan Suami Sahabatku

Dipaksa Menikah dengan Suami Sahabatku

"Dulu aku suka membuat puisi. Lalu diam-diam menyelipkannya di laci mejamu saat kelasmu sudah kosong sepulang sekolah. Aku hampir setiap hari melakukannya. Jadi Jihan bagian mengamati situasi kalau-kalau ada siswa yang lewat kelasmu. Itu konyol sekali." "Puisi? Itu buatanmu? Sungguh buatanmu?" tanya Bian dengan wajah serius tiba-tiba. "Ya. Aku membuat puisi dengan judul bertema alam. Ada bulan, awan, bintang, hujan, pohon, laut, dan sebagainya. Aku letakkan di bawah laci mejamu." "Kal, kau tidak berbohong, kan?" Ada nada mendesak di sana.
3.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 102 kali sebagai jenis jenis puisi lama
Baca
+Pustaka
Kontrak Pernikahan Sang CEO

Kontrak Pernikahan Sang CEO

Arsen tidak bisa menahan tawa mendengarnya. Layla tersipu. "Ada banyak buku, baru dan lama. Buku-buku tua, klasik, pelajaran, sampai novel dan puisi. Mungkin semua jenis. Kau ingin yang mana?" Tanya Arsen setelah tawanya berhenti.
103.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 136 kali sebagai jenis jenis puisi lama
Baca
+Pustaka
Cintanya Telah Habis di Orang Lama

Cintanya Telah Habis di Orang Lama

"Irish, puas dengan pesta ulang tahun hari ini? Aku yang mengaturnya lho. Mawar itu tadinya disiapkan Leo untukku di pesta penyambutan. Mawar favoritku. Memang sudah kurang segar, tapi masih bisa dipakai, jadi aku pakai untuk menghias tempatmu. Lumayan, 'kan? Cocok dengan statusmu, suka memungut sisa-sisa orang lain." Sambil berbicara, dia menggoyangkan gelas sampanyenya, lalu mengulurkan tangan dan menyentuhkan gelasnya ke gelasku, seolah-olah tak sengaja memamerkan sebuah cincin berkilau di jari manisnya. Cincin itu ... aku juga punya yang hampir sama. Bedanya, punyaku yang asli.
3.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 109 kali sebagai jenis jenis puisi lama
Baca
+Pustaka
Sì Hong To (Golok Empat Penjuru)

Sì Hong To (Golok Empat Penjuru)

Ong Kiat: (tanpa menoleh) "Berhasil untuk apa?" Suaranya serak. Bukan karena dingin. Ah Wu: "Untuk... untuk negara, Tuan. Untuk... untuk—"yang Ong Kiat: (tertawa pahit) "Untuk negara? Atau untuk Selir Hui?" Mereka diam. Mereka tahu jawabannya. 🏮 PUISI YANG TAK PERNAH SAMPAI Kenangan lain datang—lebih manis, lebih perih di pelupuk Ong Kiat. Ia menggenggam Buku Puisi Karya putri yang diinginkannya. Yang tidak cantik sekali, tapi halus budi bahasanya.
367 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 11 kali sebagai jenis jenis puisi lama
Baca
+Pustaka
Dance in the Rain

Dance in the Rain

Aku tak peduli dan fokus menatap Bu Asri yang semakin tampak kesal. "Ya sudahlah, kalian bisa saling mengenal setelah sering bertemu," kata Bu Asri seakan tampak lelah. "Jadi, Rain, Aksa, saya memanggil kalian untuk mengikuti lomba baca puisi yang akan diselenggarakan dua bulan lagi. Tapi, saya harus segera menyampaikannya agar waktu persiapan kalian matang. Ada tiga kategori yang akan dilombakan. Baca puisi putri, baca puisi putra, dan kolaborasi putra dan putri. Kaprodi mengusulkan untuk mengikuti ketiganya karena percaya dengan kemampuan kalian. Teknisnya ada di lembaran yang akan saya bagikan. Puisinya juga sudah dilampirkan. Satu puisi wajib, dan ada beberapa puisi pilihan yang bisa kal
103.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 81 kali sebagai jenis jenis puisi lama
Baca
+Pustaka
Saat Cinta Menyapa Lagi

Saat Cinta Menyapa Lagi

katanya, “di tempat di mana mimpi lama tidak dihakimi karena pernah ditinggalkan.” Lia membuka atlas emasnya. Kini halaman-halamannya tidak hanya memuat awal baru atau dunia yang terselamatkan. Halaman baru itu berjudul: Tempat Mimpi Lama Menemukan Namanya Kembali Tulisan emas itu bersinar, lalu berubah menjadi peta jalur-jalur halus. Bukan jalur ke kamar atau balkon. Namun jalur menuju kenangan. Ke laci lama yang berisi puisi SMA.
798 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 27 kali sebagai jenis jenis puisi lama
Baca
+Pustaka
Istri Juragan Jagatnata (His by Law, Never by Love)

Istri Juragan Jagatnata (His by Law, Never by Love)

Membuka laci, mengeluarkan buku kecil lusuh yang dulu ia sembunyikan sejak pertama kali pindah ke rumah ini. Buku puisi. Tangan gemetarnya menyentuh halaman yang kusut. Ia membaca baris-baris puisi lama yang dulu ia tulis untuk mimpi yang kini terasa asing. Aku ingin menjadi seperti perempuan dalam lagu. Yang tidak perlu menyerah, meskipun jatuh berulang. Tetapi kini, aku menjadi bayangan dari diriku sendiri. Cintaku tertanam di tanah yang tidak menjanjikan musim semi.
881 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 31 kali sebagai jenis jenis puisi lama
Baca
+Pustaka
Black Finger (Indonesia)

Black Finger (Indonesia)

Gerak tangan Isabel terhenti. Rin menerawang ke malam perpisahan anak tingkat tiga. Sebagai ketua panitia acara, puisi itu digunakan J-End sebagai kalimat pembuka dalam pidatonya. “Dia hanya bilang ‘Sebuah Puisi Tua dari Slavidion’, tanpa judul dan tanpa nama penyair.” 'Hitam dan Putih Dalam kilatan waktu Terpecah jauh' “Kamu bisa mengingatnya?” tanggap Isabel tak percaya. Padahal ia juga hadir dalam acara perpisahan itu.
1013.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 466 kali sebagai jenis jenis puisi lama
Baca
+Pustaka
KASTA HARTA DAN CINTA

KASTA HARTA DAN CINTA

kilah Dayu gugup. "Itu bukan tulisan kuno! dia berbohong, aku pernah mendengar puisi itu entah dimana, dia hanya ingin mendekatimu lagi Dayu!" tegas De Arya. "Eh, kau boleh saja cemburu, tapi jangan pernah menganggap aku berbohong! Asal kamu tahu saja, perkamen yang kubawa ini sudah berumur 200 tahun lebih! dan kamu? selama menjadi pacar Dayu, apakah kamu memahami apa yang ia sukai? sudah berapa benda kuno yang kau hadiahkan kepadanya? apakah kau sudah menemaninya ke museum?"
106.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 269 kali sebagai jenis jenis puisi lama
Baca
+Pustaka
Sang Penjaga Pajajaran

Sang Penjaga Pajajaran

(Asal rasa, asal waktu, asal jati diri. Ratih menatap kagum. “Apakah itu bahasa dari Pajajaran lama?” “Bukan,” jawab Arjuna. “Lebih tua dari Pajajaran. Ini bahasa sebelum aksara dikenal, bahasa yang hanya bisa dipahami dengan rasa.” Arjuna kemudian menutup mata. Dalam keheningan itu, Kujang Layung di pinggangnya bergetar halus. Cahaya biru merambat ke ujung bilahnya, menyatu dengan pendar batu prisma itu.
101.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 37 kali sebagai jenis jenis puisi lama
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1234568
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status