Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Shadow of The Past

Shadow of The Past

Dia hanya mengangguk pada si asisten dan menerima berkas-berkas itu. Karena tak punya waktu untuk membaca berkas tersebut di sini, dia hanya sempat melihat kelengkapan berkas sebelum memasuki ruang konferensi. Mata Kei mengedar sekilas, melihat jejeran kursi yang telah dipenuhi oleh para kolega kerja. Sebuah meja panjang dengan desain semi-kotak berada di tengah-tengah ruangan. Di bagian meja yang menghadap langsung ke layar presentasi, tertata tiga buah kursi yang berdampingan. Dua di antaranya sudah terisi. Hanya kursi paling tengah yang masih kosong. Kei bergegas menghampiri. Dia mengulas senyum formal selagi sedikit membungkukkan badan sebagai bagian dari etika.
1029.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.1K kali sebagai kursi bos
Baca
+Pustaka
Sugar Mommy Amatiran

Sugar Mommy Amatiran

“Apa kursi di sini kosong?” “Ya. Kosong.” Tentu saja yang ditanya menjawab dengan jujur. Toh semua orang juga bisa melihat kalau tidak ada yang menempati kursi di samping Aiden. “Kalau begitu, boleh aku duduk di sini?” Perempuan tadi bertanya lagi dengan tawa kegirangan. “Silakan saja.” Kening Aiden mengerut mendengar itu. Dia tidak mengerti kenapa harus ditanyai karena kursi yang dimaksud memang kosong dan bisa digunakan siapa saja.
106.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 207 kali sebagai kursi bos
Baca
+Pustaka
Menjadi Istri Kedua Kembaran Suamiku

Menjadi Istri Kedua Kembaran Suamiku

Meyakini ada yang tidak beres dengan istrinya. “Ada apa, Sayang?” “Tertanam bom di bawah kursi Nyonya Dyra, Tuan.” Seorang pria bertubuh jangkung muncul dari kegelapan. Wajahnya tidak Ghavin kenal, tapi dari gesturnya, Ghavin tahu ia bukan orang biasa. "Nyonya tidak bisa meninggal kursi, atau bomnya akan meledak.” pria itu memperingatkan. "Bom dilengkapi sensor tekanan. Jika beban di kursi berkurang atau bertambah, bom akan langsung meledak."
104.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 87 kali sebagai kursi bos
Baca
+Pustaka
Cinta Sekolah Menengah Pertama

Cinta Sekolah Menengah Pertama

sahut Lisa sambil duduk di kursi depan. Matari duduk di kursi penumpang di belakang Lisa, seperti biasanya. Dia sedikit penasaran dengan perkataan Lisa barusan sebagai hadiah kecil untuk dirinya. “BERES, BOS! Mbak Matari siap?” seru Pak Karim. “Siap!” sahut Matari sambil tertawa tanpa mengerti apa yang dimaksud oleh kedua orang di hadapannya sekarang.
1015.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 451 kali sebagai kursi bos
Baca
+Pustaka
We Are

We Are

Ia lalu menggerakkan bola matanya melihat kursi penumpang dalam bus. Dengan cepat ia menghitung kursi dalam bus yang berjumlah tiga puluh satu, tidak termasuk kursi tunggal milik sopir. Ah, Diana tahu apa yang harus ia lakukan. Diana bangkit dari duduknya dan melihat ke arah kursi kosong di bagian belakang bus. Seperti dugaannya, ada satu kursi kosong di sana. Karena jumlah murid sekelas hanya ada tiga puluh orang.
106.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 143 kali sebagai kursi bos
Baca
+Pustaka
ISTRI TERCINTA BOS BESAR

ISTRI TERCINTA BOS BESAR

Dia masih fokus melihat ke berbagai arah, di setiap meja, di setiap pengunjung yang ada— mencari sosok Rena. "Oh iya, dia kerja, berarti pakai baju pegawai ... tapi dia sebagai apa? masa iya waitress, kayaknya nggak mungkin ... manager?" gumamnya sambil melihat beberapa pelayan berseragam yang melayani di beberapa meja. Tidak ada Rena. Hingga tak lama kemudian, dia menemukan wajah-wajah tak asing sedang duduk di kursi yang mengintari meja nomor sepuluh— meja dekat jendela kaca depan.
1050.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.7K kali sebagai kursi bos
Baca
+Pustaka
Nikah Yuk, Gus!

Nikah Yuk, Gus!

Kelopaknya mengombak menampung butiran embun dan sinar bulan ketika malam. Satu matras sederhana dan satu set meja kursi untuk istirahat dan duduk santai. Ada pula almari plastik yang berdiri kokoh di sebelah tubuh jendela. Bos Bagong menoleh ke belakang, memastikan bahwa Putra tidak bergerak mengikutinya. "Jangan banyak bertingkah atau kau tahu akibatnya!"
7.78.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 317 kali sebagai kursi bos
Baca
+Pustaka
Ditinggal Suami Dinikahi Bos

Ditinggal Suami Dinikahi Bos

"Kosong, Bu. Kursi spesial tidak pernah ditempati siapa pun." "Loh, Mas tau saya?" tanyaku sambil menunjuk diri. "Bagaimana mungkin saya tidak mengenali istri Bos sendiri, Bu. Mari saya antar." Aku merasa canggung. Tapi tak bisa menolak saat pramusaji ini mengantarku ke tempat special. "Silakan, Bu. Nanti tunggu Bos di sini." Aku tercengang dengan tempat yang ditunjuk pramusaji tadi. "Ini gak salah, Mas?"
1016.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 352 kali sebagai kursi bos
Baca
+Pustaka
PILIH KASIH (Membungkam Mertua dan Ipar secara Elegan)

PILIH KASIH (Membungkam Mertua dan Ipar secara Elegan)

Tetapi sekarang ini, Lisa harus bertahan dengan perabotan yang seadanya. "Maaf ya, An. Kamu nggak bisa duduk, soalnya Mbak nggak punya kursi maupun tikar," ujar Lisa dengan nada sungkan. "Ya nggak apa-apa, Mbak. Aku mah bisa duduk di mana aja," kata Ana sambil terkekeh kecil. "Di lantai begini juga nggak apa-apa, kok," kata Ana lagi.
9.6235.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 4.9K kali sebagai kursi bos
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status